Kain batik tulis yang diproduksi perajin Indonesia banyak diminati kalangan wisatawan mancanegara. Terlebih, batik yang diproses menggunakan pewarna alami.
Sayangnya, jumlah perajin yang memproduksinya kalah jumlah dengan batik dengan pewarna sintetis.
"Batik dengan pewarna alami banyak diminati orang luar dan wisatawan yang datang. Bahkan harganya juga lebih mahal dibanding yang biasa," ujar Kasi Penyelenggaraan Pelatihan Koperasi dan UKM Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur Sutoyo.
Untuk menambah jumlah pembatik dengan pewarnaan natural itu, pihaknya menggelar pelatihan khusus.
Pelatihan tersebut melibatkan sekitar 30 perajin dan usaha kecil menengah (UKM) batik dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Berlangsung di aula lantai 2 Kantor UPT Pengembangan Tenaga Kesejahteraan Sosial Jatim di Jalan Panglima Sudirman, Kota Malang, perajin yang didominasi ibu-ibu itu terlihat khusyuk membatik.
Dengan telaten mereka menuangkan lilin dari canting ke kain dan membentuk pola-pola yang sudah tercetak di kain.
Setelah pola rampung ditutup lilin, kain-kain itu lantas direndam di dalam larutan pewarna.
Warna-warna merah, kuning, hijau, biru dan merah tampak tidak secerah pewarna buatan.
Pasalnya, warna itu diperoleh dari bahan-bahan alami seperti kulit kayu Mahoni, daun ketepeng, dan lain-lain.
Sutoyo mengungkapkan, pada pelatihan tersebut pihaknya memang sengaja memberikan pelatihan membatik dengan warna alami.
Pasalnya, batik jenis tersebut memiliki pasar khusus yang belum banyak digarap oleh perajin di daerah.
"Karena mereka skalanya masih kecil, produk batik dari warna alam ini bisa jadi cenderamata khas daerah," sebutnya.
Selain itu, lanjut dia, potensi ekspor untuk produk batik dari bahan alam juga besar.
Menurutnya, wisatawan asing lebih menyukai batik dengan warna berbahan alami karena bagus untuk kulit.
"Karena katanya warna alam bagus untuk kulit, tidak timbulkan iritasi saat dipakai," jelasnya.
Pada pelatihan yang sudah digelar sejak Senin (18/3) lalu itu, para peserta mendapat beberapa materi membatik.
Seperti membuat pola batik tulis, teknik mengisi warna, hingga meracik pewarna dari bahan-bahan di sekitarnya.
"Warna alam lebih mahal, karena proses lama. Yang beli menengah keatas," ujar Narnianik, salah satu peserta pelatihan.
Rata-rata, batik dengan warna alam dibanderol dengan harga di atas Rp 350 ribu.
Perempuan asal Trenggalek itu berharap, dengan adanya pelatihan ini, dirinya bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah.
"Ya semoga setelah ini juga ada bantuan untuk pemasaran. Jadi kami tidak bingung harus menjual ke mana," pungkasnya.
