Pemilu 2019 Terumit Sedunia? Ini Penjelasan DPR RI | Madiun TIMES

Pemilu 2019 Terumit Sedunia? Ini Penjelasan DPR RI

Feb 01, 2019 20:55
Wakil Ketua Komisi 2 DPR RI Nihayah Wafiroh saat menggelar sosialisasi di Jember
Wakil Ketua Komisi 2 DPR RI Nihayah Wafiroh saat menggelar sosialisasi di Jember

Pemilu 2019 ini bakal menjadi pemilu paling rumit sedunia, sebab pemilu tahun ini digabung antara Pilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg). Hal tersebut telah diatur dalam undang-undang no 7 tahun 2017. Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi 2 DPR RI, Nihayatul Wafiroh, saat menggelar acara sosilisasi pendidikan pemilu di Hotel Meotel, Jember, Jumat (1/2/2019).

Menurut Nduk Nik (sapaan akrab Nihayatul Wafiroh), sebelumnya pemilu itu dipisah, Pileg dulu baru beberapa bulan kemudian Pilpres. Tapi, tahun 2019 sudah tidak, semuanya digabung. "Jadi, nanti saat di TPS, akan mendapatkan 5 kertas suara sekaligus. 1 untuk presiden, DPD, DPR RI, DPRD Provinsi dan 1 untuk DPRD Kabupaten/kota," ujar perempuan yang juga cucu almarhum KH. Muhtar Syafaat pendiri pondok pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.

"Nah, itu yang perlu disosialisasikan sebab pemilu tahun ini sangat rumit. Masyarakat perlu memahami dan yang hadir di sini juga perlu mensosialisasikan ke yang lainnya," ungkapnya.

Nduk Nik menjelaskan, tingkat partisipasi masyarakat Jember pada Pilgub kemaren hanya 52 persen, sangat rendah. Oleh karenanya, Ia berharap pemilu yang akan datang partisipasi masyarakat semakin meningkat. Padahal, sambung Nduk Nik, saat pemilu berlangsung pemerintah sudah meliburkan semuanya, itu bukan untuk dijadikan liburan ke Watu Ulo melainkan agar masyarakat datang ke TPS.

Nduk Nik berharap, masyarakat datang ke TPS terlebih dahulu sebelum liburan ke tempat wisata atau melakukan kegiatan lainnya.
Menurut politisi PKB tersebut, masyarakat perlu mengetahui antara hak dan kewajibannya. "Tunaikan kewajibannya memilih baru menuntut haknya, semisal bila ada jalan rusak agar diperbaiki dan hak lainnya," ucapnya.

Selain Nihayatul Maghfiroh, pemateri kedua dari Komisiner KPU Provinsi, Gogot Cahyo Nugroho dan juga dihadiri KPU Kabupaten Jember Hanafi, Bawaslu Provinsi Jawa Timur Totok Hariyono, SH dan Bawaslu Kabupaten Jember Ali Rahmad Yanuardi.

Dalam kesempatan tersebut, Gogot Cahyo Nugroho menyinggung soal maraknya berita hoaks. Ia mengimbau pada agar masyarakat teliti terlebih dahulu bila menemukan berita yang sifatnya profokatif. "KPU itu sering dijadikan sasaran berita hoaks, semisal adanya berita 7 kontainer yang berisi surat suara telah dicoblos salah satu paslon. Tapi, setelah dicek ternyata tidak ada alias hoaks," katanya.

Selain itu, Gogot juga meminta kepada masyarakat agar tidak menjadikan pemilu ini sebagai ajang saling mencaci maki, tidak perlu saling bertengkar, "Hidup bukan hanya untuk pemilu ini," ujarnya.

Setelah pemilu, sambung Gogot, semua kembali ke habitat masing-masing, yang mencangkul ya mencangkul dan yang ngajar ngaji ya tetap mengajar ngaji. (*)

Topik
Berita Jember Pemilu 2019 Pilihan Presiden Pemilihan Legislatif

Berita Lainnya