Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Perjalanan Pertama Muslim di Malang Berhaji ke Tanah Suci, Begini Kisahnya

Penulis : Pipit Anggraeni - Editor : Yunan Helmy

21 - May - 2018, 19:20

Placeholder
Dokumentasi Kiai Thohir, menantu dari Kiai Hammimuddin yang diyakini sebagai penyebar ajaran Islam di wilayah Malang Utara, khususnya Singosari (Pipit Anggraeni)

 Sejak masuknya Islam ke Malang Raya, belum diketahui dengan pasti jejak dari para muslim yang melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Namun dari banyaknya cerita legenda yang berkembang di masyarakat, ada beberapa tokoh pemuka Islam pertama di Malang yang menuju tanah suci untuk melaksanakan rukun islam kelima itu.

Salah satunya adalah tokoh penting dalam mengembangkan ajaran Islam di Malang bagian utara atau Singosari. Namanya Kiai Thohir. Dia adalah menantu Kiai Hammimuddin, mantan Laskar Pangeran Diponegoro yang diyakini sebagai penyebar ajaran Islam di Singosari. KH Hammimuddin adalah pendiri Pondok Pesantren Miftahul Falah atau yang lebih dikenal sebagai Ponpes Bungkuk Singosari.

H Moensif Nachrowi, cucu Kiai Thorir, mengatakan jika pada 1930 kakeknya tersebut melaksanakan ibadah haji bersama istrinya, Nyai Siti Murthosiah, dan anak bungsunya, Kiai Nachrowi. Dalam rombongan tersebut, juga diajak keponakan Kiai Thohir, yaitu Kiai Anwar beserta dua putranya, Hamid dan Mudjib.

"Tapi saya tidak tahu pasti apakah itu adalah keberangkatan beliau (Kiai Thohir) ke tanah suci untuk yang pertama atau sudah kesekian," katanya kepada MalangTIMES belum lama ini.

Saat itu, Pemerintah Hindia Belanda memberi perhatian lebih kepada siapa pun yang melaksanakan ibadah haji. Sejak awal perkembangan Islam di Nusantara, pemerintah kolonial dikatakan memiliki ketakutan tersendiri kepada para haji.  Salah satunya adalah kekhawatiran dilakukannya pemberontakan atau perlawanan saat tokoh Islam usai menjalankan ibadah haji.

H Moensif bercerita jika saat kepergian untuk berangkat haji, kakeknya saat itu sempat menarik banyak perhatian pemerintah Belanda. Sampai-sampai, Belanda menyediakan kendaraan khusus untuk mengantar rombongan menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

"Saat itu katanya antusias masyarakat untuk mengantar Kiai Thohir ke Makkah luar biasa. Di sepanjang jalan, dari Singosari sampai pelabuhan, ramai dipenuhi lautan manusia yang mengelukan Kiai Thohir," ungkapnya.

Saking sesaknya pelabuhan, sang kakek ditandu dan diusung untuk melewati kerumunan orang. Sedangkan rombongan lain dilewatkan di jalur yang berbeda untuk bisa sampai di kapal yang akan memberangkatkan mereka.

Perjalanan berhaji menggunakan kapal laut saat itu membutuhkan waktu yang panjang. Dibutuhkan waktu setidaknya tiga bulan sampai setengah tahun hanya untuk menuju Makkah atau sebaliknya. 

Perjalanan yang cukup menguras pikiran, tenaga, waktu, dan biaya itu membuat istri Kiai Thohir, yaitu Nyai Murthosiah, wafat dalam perjalanan pulang dan disebut telah dimakamkan di lautan.

Sekitar tiga tahun pasca-kepergiannya ke Makkah, Kiai Thohir mengembuskan nafas terakhirnya pada 1933 M. Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Bungkuk, berjajar dengan makan Kiai Hammimuddin yang wafat pada 1850 M. (*)


Topik

Agama berita-malang sejarah-masuknya-islam-di-malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Pipit Anggraeni

Editor

Yunan Helmy