Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Temenggungan Jazz Ethno Membuat Presiden Festival Jazz Merinding

Penulis : Widie Nurmahmudy - Editor : Heryanto

17 - Aug - 2016, 04:21

Placeholder
Presiden Festival Jazz dari Perancis Utara, Claude Colpaert hadir di Banyuwangi belum lama ini (Foto : Moh. R. Abdul Fatah/LumajangTIMES)

Pagelaran Temenggungan Jazz Ethno yang diselenggarakan di Kampong Wisata Temenggungan atau yang lebih dikenal dengan KAWITAN telah membuat Presiden Festival Jazz dari Perancis Utara (Jazz en Nord Festival), Claude Colpaert merinding.

Hal itu diungkapkan Claude setelah melakukan performance kolaborasi panggungnya bersama grup gamelan anak-anak Banyuwangi Putra Junior dan grup Banyuwangi Jazz Patrol.

“Luar biasa, jujur, saya merinding. Karena disini saya benar-benar mendapatkan atmosfir yang begitu kuat. Dimana, semua larut dalam alunan music.” kata pria yang sudah melanglang buana ke beberapa Negara ini saat berbincang-bincang bersama Banyuwangi Times.

Lebih lanjut, kekaguman Claude terhadap musik tradisional yang ada di Temenggungan, makin membuat dirinya terpesona. Apalagi, kesenian tradisional tersebut masih dilestarikan dan telah menjadi bagian dari kegiatan anak-anak. Dimana, di Prancis sendiri, ungkap Claude, musik tradisional sudah hampir punah.

Selama ini, Claude telah bermusik keliling dunia dengan beberapa grup yang melakukan pentas-pentas reguler di Perancis Utara, dan juga melakukan performance di berbagai negara seperti di Austria, Malaysia, dan Myanmar.

Bahkan, pemilik album La Pieuvre 1999-2005 (Circum discs), La Pieuvre "Ellipse" (Hélix- Circum discs), La Pieuvre & Circum Grand orchestra "Feldspath" dan album Ziph (Prele records) ini dikenal cerdas dalam mengeksplorasi permainan instrumen gamelan Bali gangsa gantung, baik memainkannya dengan alat pemukul aslinya, atau memainkannya dengan arco dan stick vibraphone, untuk bereksperiman dengan vibrasi yang dihasilkan.

“Selama saya berkeliling dunia, baru dua Negara yang masih kental seni musik tradisionalnya, yaitu di Burma dan Temenggungan-Banyuwangi.” ucapnya . Claude masih mempunyai mimpi besar untuk bisa performance lagi di Temenggungan. dan berharap anak-anak Kawitan bias eksplore bermusik tanpa harus kehilangan akarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ali Gardy, salah satu pengisi acara ‘Temenggungan Jazz Ethno’. Ali merupakan seniman dari Kota Situbondo yang menitikberatkan eksplorasi bebunyian pada instrumen dawai, tiup, dan perkusi.

Ia juga merupakan penggagas agenda kesenian Festival Kampung Langai dan Argopuro Festival di Situbondo.

“Wah, rasanya seperti tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Karena Temenggungan Jazz Ethno bukan hanya masalah tehnis semata. Tapi, energy pemusik dan audience sangat luar biasa.” pungkas pria yang ahli memainkan instrumen saxophone, flute, seruling etnik, sapek Kalimantan, dan berbagai alat musik lain ini saat berincang dengan Banyuwangi Times.


Topik

Peristiwa Temenggungan Jazz-Ethno Kampung-Wisata Banyuwangi-Jazz



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Widie Nurmahmudy

Editor

Heryanto