Dulu, Pantai Watu Ulo menjadi primadona warga Jember untuk berwisata kala libur tiba. Bahkan, Watu Ulo sempat menjadi ikon wisata di kabupaten penghasil tembakau ini. Kini setiap tahun, pengunjung pantai yang memiliki batu bersisik mirip ular itu semakin berkurang.
“Penyebabnya, karena ada dua pantai yang lebih menarik minat warga untuk berkunjung kesana. Kedua pantai itu adalah Pantai Papuma (Pasir Putih Malikan) dan Pantai payangan,” kata Sumini, pemilik warung Bu Loso yang berdiri di bibir Pantai Watu Ulo, Jum’at (26/12/2015).
Dua pantai yang disebut Sumini, terletak di sebelah barat dan timur Pantai Watu Ulo. Jaraknya sekitar 1 kilo meter untuk Papuma, yang dipisahkan oleh kaki Gunung Watangan.
Jika watu Ulo berada di Kecamatan Ambulu, Papuma lokasinya masuk wilayah Kecamatan Wuluhan.
Pengelolanya pun berbeda, Watu Ulo menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Jember, sedangkan Papuma dikelola oleh Perhutani KPH Jember.
Sementara Pantai Payangan, masih satu desa dengan Watu Ulo, yakni Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, jaraknya sekitar 2 kilometer ke arah timur.
Yang membedakannya adalah, Pantai Payangan dikelola oleh warga setempat, sehingga pengunjung yang datang tidak dikenai biaya tiket masuk.
Hanya ongkos parkir kendaraan yang nilainya cukup murah, mulai Rp 3 ribu hingga Rp 7 ribu. Sedangkan tiket masuk Watu Ulo, setiap pengunjung dikenai biaya Rp 12.500.
Siang itu, Sumini memakai kaos berwarna gelap, yang dipadankan dengan legging sebatas betis berwarna senada. Dia tengah melayani sejumlah pengunjung yang memesan es kelapa muda, serta ikan bakar. Empat orang adalah wisatawan lokal Jember, sedang lima orang lainnya berasal dari Kota Surabaya.
Sumini adalah generasi kedua pengelola warung Bu Loso. Dia berjualan bersama anak perempuan dan suaminya. Sebelumnya, kedua orang tuanya lah yang melayani pengunjung pantai saat membeli di warung yang menjadi andalan penghasilan keluarganya selama 40 tahun tersebut.
Menurut Sumini, penurunan jumlah pengunjung ini berimbas terhadap barang dagangannya. Diakuinya, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pendapatannya menurun hingga 50 % untuk hari libur biasa atau hari minggu.
“Jika hari raya kemarin tetap ramai. Tidak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi, entah untuk libur tahun baru yang akan datang ini. Ya, semoga saja tetap ramai,” harapnya.
Suto Wijoyo, Direktur CV Massawil Lestari Bahari, yang memenangi tender pengelolaan Watu Ulo, tetap optimis dapat memenuhi target pendapatan yang diambilkan dari tiket masuk.
Meski, CV Massawil mengelola Watu UIo dengan nilai kontrak yang cukup tinggi, yaitu Rp 45,5 juta. Masa pengelolaannya juga tergolong singkat, mulai tanggal 24 Desember hingga 3 Januari 2016 mendatang.
“Kami sudah menghitung semua, termasuk untuk biaya operasional,” kata Suto, sapaan dia, saat ditemui sejumlah wartawan di depan Kantor Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Jember, Rabu (23/12/2015) kemarin.
Optimisme Suto ini, dinilai cukup realistis. Karena, sejak sepuluh tahun terahir, pengelolaan Watu UIo jatuh ke CV yang dipimpinnya. Walaupun, pada momen libur Natal dan Tahun Baru 2013 yang lalu, dia melepaskan Watu Ulo dan dikelola sendiri oleh Pemkab Jember. “Meskipun faktanya, saat itu Pemkab Jember merugi,” jelasnya
Setelah tahun 2013 itu, pihaknya selalu memegang tender pengelolaan Watu Ulo hingga kini.
Kendati demikian, Suto tetap menyayangkan mepetnya waktu lelang yang dilakukan oleh Pemkab Jember. Padahal, waktu libur panjang sudah cukup dekat.
“Kalau tidak salah, tanggal 16 Desember kemarin baru dilelang. Seandainya, tiga bulan sebelumnya, mungkin kami bisa membuat event yang dapat menarik minat pengunjung lebih besar lagi. Kalau mepet begini kan nggak bisa. Banyak artis maupun hiburan lainnya yang telah dibooking oleh pihak lain,” ucapnya. (*)
