Ingin Hajat Mudah Terkabul? Amalkan Shalawat Munjiyat Berikut Ini
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
27 - Jan - 2026, 07:23
JATIMTIMES - Bagi banyak orang, memperbanyak shalawat menjadi salah satu ikhtiar batin saat berharap hajat segera dikabulkan. Di antara berbagai bacaan shalawat yang dikenal luas, Shalawat Munjiyat kerap diamalkan karena diyakini membawa pertolongan dan kemudahan, tentu atas izin Allah SWT.
Pada dasarnya, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dapat dilakukan dengan lafaz sederhana, seperti shallallâhu ‘alâ Muhammad. Namun, dalam praktiknya, umat Islam mengenal beragam shalawat dengan redaksi dan keutamaan masing-masing. Shalawat Munjiyat termasuk yang paling sering dibaca, terutama ketika seseorang sedang memiliki hajat tertentu.
Baca Juga : Umar bin Khattab Pernah Disangka Gila, Inilah Kisah di Balik Air Mata Sang Khalifah
Keutamaan shalawat tidak lepas dari perintah langsung dalam Al-Qur’an. Allah SWT menegaskan bahwa bershalawat kepada Nabi bukan hanya amalan sunnah, tetapi juga bentuk ketaatan orang beriman.
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56)
Ayat ini menjadi dasar kuat mengapa shalawat dianjurkan dibaca secara istiqamah, baik sebagai dzikir harian maupun pengiring doa.
Berikut bacaan Shalawat Munjiyat yang lazim diamalkan, lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya.
Arab:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْاٰفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَـــا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَـــاتِ
Latin:
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât wa taqdhî lanâ bihâ jamî’al hâjat wa tuthahhirunâ bihâ min jamî’is sayyiât wa tarfa’unâ bihâ ‘indaka a’lad darajât wa tuballighunâ bihâ aqshal ghâyat min jamî’il khairâti fil hayâti wa ba’dal mamât
Artinya:
Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu Engkau menyelamatkan kami dari segala keadaan yang menakutkan dan berbagai cobaan; dengan shalawat itu Engkau mengabulkan seluruh hajat kami; dengannya Engkau menyucikan kami dari semua keburukan; dengannya Engkau mengangkat kami ke derajat tertinggi; dan dengannya pula Engkau menyampaikan kami pada tujuan paling sempurna dari seluruh kebaikan, saat hidup dan setelah wafat.
Secara bahasa, Munjiyat berarti penyelamat. Nama ini tidak muncul tanpa sebab. Dalam literatur klasik, Shalawat Munjiyat dikaitkan dengan kisah seorang arif yang mengalami peristiwa menegangkan di tengah laut.
Baca Juga : Ramadan 2026 Semakin Dekat, Ini Batas Akhir Bayar Utang Puasa yang Wajib Diketahui
قال بعض العارفين كنت في مركب فعصفت علينا الريح فأشرفنا على الغرق فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في منامي فقال قل لهم يقولون اَللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ فاستيقظت فقلناها جميعا فسكن الريح بإذن الله تعالى
Artinya: Sebagian orang arif berkata: ‘aku berada di kapal, kemudian badai berembus kencang, hampir saja menyebabkan kami tenggelam. Lalu aku (tertidur dan) melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi, beliau bersabda: Katakan pada mereka ‘Bacalah doa Allâhumma shalli ‘alâ Muhammadin shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât wa taqdhî lanâ bihâ jamî’al hâjat wa tuthahhirunâ bihâ min jamî’is sayyiât wa tarfa’unâ bihâ ‘indaka a’lad darajât wa tuballighunâ bihâ aqshal ghâyat min jamî’il khairâti fil hayâti wa ba’dal mamât, lalu aku terbangun dan kami ucapkan bacaan sholawat tersebut, lalu angin pun terdiam atas seizin Allah ta’ala. (Abdurrahman bin Abdissalam Ash-Shafuri, Nudhah al-Majâlis wa Muntakhab an-Nafâis, halaman: 284).
Kisah tersebut juga dijelaskan lebih rinci dalam kitab Al-Fajr al-Munir fi as-Shalat ‘ala al-Basyir wa an-Nadzir. Dalam kitab ini disebutkan bahwa sosok arif tersebut adalah Syekh As-Shalih Musa ad-Dlarir, salah satu tokoh tarekat Syadziliyah.
وأخبرني الشيخ الصالح موسى الضرير رحمه الله تعالى: أنه ركب في البحر؛ قال: وقامت علينا ريح تسمى: الأقلابية قلَّ من ينجو منها من الغرق، وضج الناس خوفاً من الغرق، قال: فغلبتني عيناي، فنمت، فرأيت النبي صلى الله عليه وآله وسلم وهو يقول: قل لأهل المركب يقولون ألف مرة: اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ قال: فاستيقظت، وأعلمت أهل المركب بالرؤيا، فصلينا بها نحو ثلاثمائة مرة؛ ففرج عنا، هذا أو قريب منه، صلى الله عليه وسلم.
Artinya: Syekh Shalih Musa ad-Dharir rahimahullah mengabarkan kepadaku bahwa beliau mengendarai perahu, lalu berkata: “Badai yang dikenal dengan sebutan Aqlabiyah menyerang kami, sangat sedikit orang yang selamat dari tenggelam sebab badai tersebut. Manusia berteriak karena khawatir akan tenggelam. Lalu aku diserang rasa kantuk, hingga akhirnya aku tertidur. Dalam mimpi Aku melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Katakan pada penumpang perahu, agar mereka membaca shalawat berikut: ‘Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât wa taqdhî lanâ bihâ jamî’al hâjat wa tuthahhirunâ bihâ min jamî’is sayyiât wa tarfa’unâ bihâ ‘indaka a’lad darajât wa tuballighunâ bihâ aqshal ghâyat min jamî’il khairâti fil hayâti wa ba’dal mamât.’ Lalu Aku terbangun dan aku beritakan pada penumpang perahu tentang mimpi yang aku alami, kami pun membaca shalawat tersebut, dan ketika mencapai sekitar bilangan 300, badai pun reda. (Syekh Umar bin ‘Ali bin Salim al-Fakihani, al-Fajr al-Munir fi as-Shalat ala ala al-Basyir wa an-Nadzir, halaman: 25).
Dalam tradisi keislaman di Nusantara, Shalawat Munjiyat lazim dibaca pada pembuka doa, khususnya dalam rangkaian tahlil. Banyak ulama meyakini doa yang diawali shalawat ini lebih cepat diijabah, dengan catatan sepenuhnya bergantung pada kehendak Allah SWT.
Selain itu, shalawat ini juga sering diamalkan sebagai dzikir setelah salat hajat, ketika seseorang memohon kemudahan atas urusan tertentu.
Tak sedikit pesantren yang memasukkan Shalawat Munjiyat dalam wirid dan hizib harian. Hal ini menunjukkan kuatnya keyakinan ulama terhadap keutamaan shalawat tersebut.
Meski demikian, sebagian ulama menganjurkan agar pengamalannya tetap berada dalam bimbingan guru atau mursyid, agar jumlah dan tata cara pembacaan lebih terarah.
