Syekh Datuk Kahfi: Ulama Malaka, Guru Siti Jenar Perintis Caruban Larang

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana

24 - Aug - 2025, 02:43

Lukisan realis Syekh Datuk Kahfi. (Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di puncak Gunung Amparan Jati, sebuah cungkup makam berhiaskan keramik Cina masih bertahan menantang cuaca pesisir Cirebon. Tidak jauh dari sana, Gunung Sembung berdiri dengan kemegahan Sunan Gunung Jati sebagai pusat ziarah dan pusat peradaban Islam Jawa Barat. 

Sementara itu, di seberangnya, Gunung Amparan Jati menyimpan narasi berbeda, yakni tempat Syekh Datuk Kahfi menanam benih dakwah, membentuk murid, serta menyiapkan tanah bagi lahirnya Caruban Larang.

Baca Juga : Hari Ini Terakhir, Diskon Tambah Daya Listrik 50% PLN Berakhir 23 Agustus 2025

Keramik-keramik yang menempel di dinding cungkup tak semata ornamen. Ia menjadi saksi: bagaimana gelombang arus keilmuan, jalur perdagangan, dan diaspora spiritual dari Malaka hingga Baghdad berkelindan di tanah Pajajaran. Di titik inilah, sejarah dakwah Islam Jawa Barat bertumbuh, bersemi, dan berdaulat di tengah kuasa Hindu Pajajaran yang tak pernah benar-benar runtuh tanpa kompromi.

Jejak Malaka–Baghdad–Pajajaran: Asal-Usul Syekh Datuk Kahfi

Babad Cerbon, Carita Purwaka Caruban Nagari, dan Nagarakretabhumi Sarga IV menjadi tali penghubung untuk menyingkap silsilah dan arah langkah Syekh Datuk Kahfi. Ulama ini bukan figur terpencil. Gelar ‘Syekh Datuk’ yang disandangnya merupakan gelar turun-temurun dari kakeknya, Syekh Datuk Isa Tuwu al-Malaka. Ayahnya, Syekh Datuk Ahmad, tercatat sebagai saudara kandung Syekh Datuk Saleh, ayah Syekh Abdul Jalil yang kelak dikenal dengan nama masyhur Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang.

Silsilah ini tidak sekadar menautkan darah, melainkan juga menautkan semangat dakwah yang berlapis. Ia membangun rute ziarah ilmu dari Malaka, poros dagang Melayu abad ke-15, menuju Baghdad, pusat rujukan madrasah dan tasawuf pada abad pertengahan. Di Baghdad, Syekh Datuk Kahfi menimba ilmu dan berkelindan dengan jaringan ulama serta arus sufisme Timur Tengah. 

Nagarakretabhumi menulis, “Ia menikah dengan salah seorang bibi Sultan Sulaiman, Syarifah Halimah.” Ikatan darah ini semakin mematangkan posisinya sebagai ulama diaspora dengan garis nasab yang mengakar pada Nabi Muhammad Saw.

Berbekal restu dan bekal keilmuan, Syekh Datuk Kahfi memilih meretas jalur dakwah ke tanah Jawa. Ia tidak segera menetap di pusat kerajaan, melainkan menjejakkan kaki di Gunung Amparan Jati, tidak jauh dari Muara Jati, pelabuhan Pajajaran yang pada masa itu menjadi simpul persinggahan para pelaut, saudagar, dan penyebar ajaran Islam dari arah barat.

Gunung Amparan Jati: Madrasah Sunyi di Pesisir

Gunung Amparan Jati bukan sekadar gunung sepi. Ia memegang fungsi kunci: benteng spiritual di luar tembok keraton Pajajaran. Di sinilah Syekh Datuk Kahfi mendirikan langgar pertama, menjaring murid-murid dari berbagai kalangan. Tak semua murid datang dengan latar sosio-politik setara. Namun di antara sekian banyak murid, dua nama mencuat dalam narasi lokal: Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang.

Pangeran Walangsungsang dan adiknya, Nyai Lara Santang, adalah anak Prabu Siliwangi dari pernikahannya dengan Nyai Subanglarang, putri Ki Gedeng Tapa yang merupakan murid Syekh Hasanuddin Quro dari Karawang. Silsilah ini menunjukkan bahwa jalur Islamisasi di Jawa Barat tidak hadir secara frontal dengan pedang, melainkan melebur melalui perkawinan, pendidikan, serta ikatan guru dan murid.

Carita Purwaka Caruban Nagari mencatat bagaimana Syekh Datuk Kahfi menanamkan akar dakwah lewat pendekatan persuasif. Ia merawat keyakinan murid-muridnya, membekali mereka bukan hanya ilmu agama, tetapi juga pengetahuan tata kelola masyarakat dan strategi meretas batas hutan belantara. Bagi Syekh Datuk Kahfi, membuka hutan sama dengan membuka peradaban.

Datuk kahfi

Dari Kebon Pesisir ke Caruban Larang

Setelah tiga tahun menimba ilmu, Pangeran Walangsungsang yang mulai matang secara spiritual menerima titah dari gurunya. “Bukalah hutan di Kebon Pesisir, jadikan tanah itu hunian bagi manusia yang mau memeluk agama Allah,” demikian bunyi amanat tersebut.

Perintah ini bukan sekadar membuka kebun. Ini simbol transisi dari pengasingan spiritual ke ruang sosial-politik yang konkret. Di bawah pimpinan Walangsungsang, para santri menebas rimba, membangun pondokan, lalu mendirikan tajug, sebuah masjid sederhana yang menjadi pusat ritual kolektif. 

Dusun itu kemudian dikenal dengan nama Caruban Larang. Dalam istilah lokal, Caruban berarti campuran, sedangkan Larang berarti berharga. Di tempat itulah berbagai etnis, keyakinan, dan jejaring niaga berkelindan, membentuk sebuah hunian yang kelak berkembang menjadi cikal bakal Cirebon.

Datuk Kahfi 3

Dinamika Kuasa: Ki Samadullah, Gedeng Alang-alang, dan Sri Mangana

Prestasi Walangsungsang dalam membuka hutan Pesisir tidak berhenti di situ. Syekh Datuk Kahfi memberinya nama kehormatan, yakni Ki Samadullah. Bersama Ki Danusela, seorang pejabat Pajajaran, Caruban Larang mulai diatur. Ki Danusela diangkat menjadi kuwu atau kepala daerah dan diberi gelar Ki Gedeng Alang-alang, sedangkan Ki Samadullah dipercaya sebagai pangraksa bumi atau pelindung bumi.

Bermula dari dusun kecil, Caruban Larang berkembang pesat. Penduduk dari pesisir dan pedalaman berdatangan. Setelah ibadah hajinya selesai, Ki Samadullah memperkokoh pengaruhnya dengan menikahi Nyi Indang Geulis, puteri Ki Danusela. Ketika mertuanya wafat, ia naik menggantikan posisi kuwu Caruban Larang.

Berita ini sampai ke Prabu Siliwangi. Raja Pajajaran ini tak bisa menolak darahnya sendiri. Ia mengirim utusan, Tumenggung Jagabaya, membawa tanda keprabuan bagi Ki Samadullah. Dengan restu itu, Walangsungsang resmi menjelma raja muslim pertama di Jawa Barat, bergelar Sri Mangana. Begitulah madrasah sunyi di Gunung Amparan Jati berbuah takhta di dataran Caruban Larang.

Syekh Datuk Kahfi: Membentuk Jaringan Wali

Datuk Kahfi 2

Karya terbesar Syekh Datuk Kahfi bukan hanya mendirikan pesantren, tetapi membentuk jaringan murid yang kelak menjelma pelita dakwah lintas Jawa. Para muridnya menempati posisi strategis. Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, keponakannya sendiri, muncul sebagai sufi kontroversial yang menantang dakwah ortodoks Wali Songo. Masaeh Munat, kelak dikenal sebagai Sunan Drajat, meneruskan Islamisasi di pesisir timur Jawa. Raden Sahid, atau Sunan Kalijaga, menjembatani seni budaya lokal dengan ajaran tauhid—memadukan wayang, gamelan, dan pesan moral Islam dalam satu pentas dakwah.

Maka Gunung Amparan Jati, meski sepi di puncak, menjelma simpul jaringan murid yang mengubah wajah Jawa. Melalui jalur murid-murid inilah konsep Islam Nusantara berproses: melebur Hindu-Buddha, merangkul adat, dan menyalurkan dakwah melalui seni, hutan, dan pasar.

Keberhasilan Syekh Datuk Kahfi dan para muridnya tak luput dari benturan. Pajajaran, yang berdiri di atas sendi Hindu-Sunda, menatap dengan curiga perubahan yang merembes dari hutan. Prabu Siliwangi sendiri dikenal menempuh kompromi. Ia tak memerangi darahnya, tetapi melepaskan sebagian wilayah pesisir demi menjaga stabilitas istana. Namun kompromi ini menyisakan celah bagi dendam sejarah. Pada generasi berikutnya, konflik antara Islam pesisir dan pusat Pajajaran meletus berulang kali, menjadi bara yang membara di balik kebangkitan Cirebon, Demak, hingga pasukan Mataram.

Dalam tafsir historiografi kritis, Caruban Larang bukan sekadar dusun yang tumbuh. Ia simbol bagaimana spiritualitas mampu membentuk pola kekuasaan. Di sinilah syariat, adat, dan strategi politik berkelindan. Dari satu langgar di puncak gunung, lahir keraton di tanah pesisir. Dari seorang Syekh Datuk Kahfi, mengalir murid yang kelak menjadi penyangga kerajaan Islam pertama di Jawa Barat.

Kini, cungkup makam Syekh Datuk Kahfi tetap sunyi di puncak Gunung Amparan Jati. Keramik Cina yang menempel di dinding cungkup adalah jejak peradaban maritim yang menautkan Malaka, Baghdad, hingga pesisir Cirebon. Ziarah ke sana bukan sekadar menapak tilas, melainkan membaca ulang bagaimana sebuah madrasah sunyi mampu menumbuhkan kerajaan, bagaimana satu guru membentuk murid, dan bagaimana satu pohon silsilah dapat menjalar membentuk Wali Songo.

Di seberang jalan besar, Gunung Sembung dengan Sunan Gunung Jati tak terpisahkan dari narasi ini. Syekh Datuk Kahfi menjadi figur transisi, jembatan antara generasi tasawuf awal dengan laskar dakwah Wali Songo. Ia tidak menghunus keris di medan perang, tetapi membuka hutan, membuka hati, dan membuka jalan bagi lahirnya Caruban Larang, yang kelak tumbuh menjadi Cirebon, benteng pesisir sekaligus gerbang Islam Nusantara.

Sejarah Gunung Amparan Jati, Syekh Datuk Kahfi, dan Caruban Larang menegaskan satu hal: spiritualitas tidak berjalan sendiri. Ia tumbuh bersama jalur dagang, perkawinan lintas etnis, strategi kompromi politik, dan dendam sejarah yang tak pernah benar-benar padam.

Sejauh apapun waktu bergerak, cungkup keramik itu mengajarkan bahwa di puncak gunung, di balik langgar yang sunyi, kerap lahir benih perlawanan, benih yang menolak tunduk pada hegemoni lama namun tidak membakar akar adat setempat. Dari sanalah dakwah Islam di Jawa Barat menemukan jalannya, mendirikan tajug di antara pepohonan, membabat rimba demi hunian baru, dan membentuk kerajaan baru dari sisa sisa kompromi istana tua.

Baca Juga : 5 Pisang Terbaik di Dunia Versi Taste Atlas, Pisang Mas Indonesia Jadi Nomor Satu

Begitulah Syekh Datuk Kahfi, ulama Malaka, guru Siti Jenar, dan perintis Caruban Larang. Jejaknya tidak lekang di batu nisan, melainkan hidup di hati para peziarah yang terus mencari makna tentang iman, tentang kuasa, dan tentang warisan perlawanan.

Jejak spiritual Syekh Datuk Kahfi tidak hanya tersimpan dalam hati para peziarah, tetapi juga tertulis dalam garis nasab yang menyingkap hubungan dan pengaruhnya terhadap murid-muridnya, termasuk sosok kontroversial Syekh Siti Jenar.

Historiografi Genealogi Pesisir: Pohon Nasab Syekh Datuk Kahfi dan Syekh Siti Jenar

Dalam sejarah spiritual Jawa, nama Syekh Siti Jenar senantiasa menggema di antara mitos dan kontroversi. Di satu sisi, ia dikenang sebagai tokoh sufi yang membawa ajaran manunggaling kawula-Gusti; di sisi lain, posisinya senantiasa berhadapan dengan arus dominan ortodoksi Wali Songo. 

Tetapi di balik ajarannya yang menembus batas syariat, terdapat kisah asal-usul yang jarang digali secara tuntas: siapa sebenarnya Syekh Siti Jenar, dari mana darah keulamaannya bermula, dan bagaimana perjalanan spiritualnya membentuk jalan pikiran yang kelak membuatnya ditakuti elite kekuasaan?

Nama kecil Syekh Siti Jenar adalah San Ali, pemberian orang tua angkatnya, Ki Danusela. Dalam beberapa manuskrip lokal, ia juga dikenal sebagai Syekh Abdul Jalil, Syekh Lemah Abang, atau Syekh Siti Jenar, nama yang mengandung makna filsafat tanah merah atau lemah abang sebagai simbol asal muasal jasad manusia.

Penelusuran silang berbagai silsilah menempatkan Syekh Siti Jenar sebagai keturunan ulama besar Malaka sekaligus bersambung ke marga Alawi, yang akarnya menembus ke garis keturunan Rasulullah Saw. Ia adalah putra Syekh Datuk Shaleh, ulama terkemuka di Malaka yang termasuk bangsawan Melayu dekat dengan Sultan Muhammad Iskandar Syah (1414–1424 M). Syekh Datuk Shaleh sendiri bersaudara kandung dengan Syekh Datuk Ahmad, yang kelak menurunkan Syekh Datuk Kahfi.

Nasab Syekh Datuk Kahfi terhimpun dalam berbagai babad lokal sebagai rantai genealogi yang senantiasa dihidupkan dalam tradisi ziarah pesisir Cirebon. Jalur ini bermula dari Nabi Muhammad Saw., yang kemudian menurunkan Sayyidah Fatimah az-Zahra bersama Ali bin Abi Thalib, lalu dari keduanya lahir Imam Husain. Dari Imam Husain, garis ini turun kepada Imam Ali Zainal Abidin, yang kemudian menurunkan Muhammad al-Baqir, diteruskan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq. Dari Imam Ja’far ash-Shadiq, garis nasab diteruskan kepada Ali al-Uraidhi, yang kemudian menurunkan Muhammad al-Naqib. Muhammad al-Naqib menurunkan Isa al-Rumi, dilanjutkan dengan Ahmad al-Muhajir, yang menurunkan Ubaidillah. Dari Ubaidillah turun kepada Alawi, lalu menurunkan Muhammad, yang kemudian menurunkan Alawi berikutnya. Jalur ini berlanjut melalui Ali Khali’ Qosam, kemudian turun kepada Muhammad Shahib al-Mirbath, yang menurunkan Sayid Alawi, diteruskan oleh Sayid Abdul Malik al-Gujarati. Dari Sayid Abdul Malik turun kepada Sayid Amir Abdullah Khanuddin, yang kemudian menurunkan Sayid Abdul Qadir. Sayid Abdul Qadir menurunkan Syekh Datuk Isa Tuwu al-Malaka, diteruskan kepada Syekh Datuk Ahmad, hingga sampai kepada Syekh Datuk Kahfi, ulama pesisir Gunung Amparan Jati yang dikenal sebagai perintis dakwah di kawasan Cirebon.

Penelusuran silang berbagai silsilah juga menempatkan Syekh Siti Jenar, atau Syekh Datuk Abdul Jalil, dalam jalur keturunan yang sama. Ia disebut sebagai putra Syekh Datuk Shaleh, seorang ulama besar di Malaka yang memiliki hubungan erat dengan Sultan Muhammad Iskandar Syah pada awal abad ke-15. Syekh Datuk Shaleh inilah yang masih bersaudara kandung dengan Syekh Datuk Ahmad, bapak Syekh Datuk Kahfi, sehingga memperkuat bukti bahwa jalur spiritual Syekh Siti Jenar pun bersambung ke marga Alawi dan menembus akar darah Rasulullah Saw. Hubungan darah ini menegaskan bahwa genealogi para penyebar Islam pesisir tidak hanya membentuk jaringan dakwah, tetapi juga menjadi fondasi spiritual sekaligus pusaka perlawanan sosial yang bertahan hingga kini.

Siti jenar


Dengan demikian, jalur nasab Syekh Siti Jenar dan Syekh Datuk Kahfi berpaut erat pada rantai genealogi yang sama. Dalam tradisi pesisir Jawa, silsilah ini bukan sekadar rangkaian nama, tetapi pusaka spiritual yang mempertautkan ajaran tauhid, solidaritas saudagar maritim, hingga jalur dakwah di jalur rempah.

Tahun 1424 M, politik Malaka bergejolak. Sultan Iskandar Syah digulingkan Mudzaffar Syah (1424–1458 M). Kudeta ini membuka jalan pembersihan terhadap loyalis istana lama. Syekh Datuk Shaleh pun terdesak memilih: tunduk pada penguasa baru tanpa berdakwah lagi, dibunuh, atau hijrah meninggalkan tanah leluhur. Ia memilih hijrah. Palembang sempat menjadi tujuan, tetapi suasana tidak kondusif. Maka, Syekh Datuk Shaleh berlayar ke pesisir utara Jawa dan bermuara di Pakuwuan Caruban, kelak dikenal sebagai Cirebon.

Di sanalah, di bawah perlindungan Ki Samadullah, Adipati Cirebon bergelar Abhiseka Sri Mangana, Syekh Datuk Shaleh membangun jaringan dakwah yang kelak mewariskan pengaruh kepada anaknya. Dalam lintasan inilah Syekh Siti Jenar lahir, mewarisi darah Melayu Arab, dan menjejakkan kakinya di tanah Jawa.

Menariknya, riwayat lain menyebut Resi Bungsu, pejabat Pajajaran, sebagai ayah asuh San Ali. Namun, periwayatan ini rapuh dibanding sumber-sumber yang menegaskan hubungan langsung ke Syekh Datuk Shaleh. Lepas dari silang narasi itu, satu hal jelas: darah spiritualitas San Ali ditopang oleh jaringan ulama Alawiyyin yang tercerabut dari Malaka.

Kunci pertumbuhan pemikiran Syekh Siti Jenar bukan hanya garis darah, tetapi juga asuhan rohani. Sejak usia lima tahun, San Ali diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi, sepupu seayah yang usianya jauh lebih dewasa — seorang ulama besar Malaka yang lebih dahulu hijrah ke Jawa sebelum gejolak politik 1424 M.

Syekh Datuk Kahfi bukan tokoh sembarangan. Ia diduga memiliki nama lain Syekh Idhafi Mahdi atau Syekh Zatul Kahfi, yang menautkan jaringan Baghdad–Gujarat–Malaka–Cirebon. Padepokan Giri Amparan Jati, yang beliau dirikan di kawasan Muara Jati (dekat pelabuhan Cimanuk), menjadi pusat dakwah di pesisir Cirebon. Letaknya strategis di jalur perdagangan internasional, membuat arus ajaran Islam terserap dalam pusaran budaya pelbagai bangsa.

Naskah Purwaka Caruban Nagari menegaskan betapa pentingnya padepokan ini: sebelum Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) muncul sebagai ikon Islam Cirebon, Syekh Datuk Kahfi sudah membina generasi awal ulama di Jawa Barat. Dalam kurikulumnya, San Ali mempelajari Nahwu, Sharaf, Balaghah, Tafsir, Musthalah Hadis, hingga Ushul Fiqh. Lebih penting lagi, ia meresapi tasawuf dan memadukannya dengan pengembaraan ke kampung-kampung. Tradisi belajar sekaligus tirakat membentuk jiwanya: teori agama bergulat dengan praksis kerohanian.

Cirebon pada abad ke-15 merupakan melting pot. Sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan, para pedagang Arab, Gujarat, Cina, serta peranakan Jawa dan Sunda saling bersilangan. Secara politik, wilayah ini berada dalam jangkauan Pajajaran, namun perlahan ditarik ke orbit Demak. Adipati Sri Mangana, yang juga dikenal sebagai Pangeran Walangsungsang, bertindak sebagai jembatan. Ia menumbuhkan simpul Islam di Caruban dan kemudian diakui sebagai kadipaten di bawah Demak.

Keberadaan Syekh Siti Jenar di pusaran kekuasaan lokal ini memberi warna unik. Ia bukan sekadar murid padepokan. Dalam beberapa riwayat, San Ali kerap mendampingi Ki Samadullah sowan ke Kadipaten Demak. Ia menyaksikan bagaimana syariat formal Islam dipakai sebagai instrumen legitimasi politik. Bagi sebagian penguasa, Islam adalah lambang kesultanan; bagi Siti Jenar, Islam harus menjadi jalan untuk kembali kepada Yang Tunggal — bukan sekadar bendera kekuasaan.

Setelah sekitar 15 tahun menimba ilmu di Giri Amparan Jati, pada tahun 1446 M San Ali beranjak keluar. Bagi dirinya, pengetahuan syariat hanyalah gerbang. Pencarian sangkan paran, asal usul dan tujuan kembali, menuntut pengembaraan batin yang lebih jauh.

Tujuan pertamanya adalah Pajajaran, di jantung Sunda. Kerajaan ini kaya para petapa Hindu-Buddha, warisan Majapahit yang masih terpelihara. Di sana, ia mempelajari kitab Catur Viphala, pusaka Prabu Kertawijaya (Brawijaya V). Kitab ini merumuskan empat pokok perilaku: nihspraha (keterbebasan dari hasrat), nirhana (melepas kesadaran jasmani), niskala (melebur diri dengan Yang Tak Terpikirkan), dan nirasraya (pencapaian fana mutlak ke Parama-Laukika). Dalam pengembaraan ini, Syekh Siti Jenar belajar memadukan sufisme Islam dengan kosmologi lokal Nusantara.

Arya damar

Dari Pajajaran, ia menyeberang ke Palembang, menemui Aria Damar, seorang Adipati pengamal kebatinan. Aria Damar sendiri tercatat sebagai murid Ibrahim Asmarakandi, seorang pelintas tasawuf dari Asia Barat sekaligus ayah Sunan Ampel. Bersama Aria Damar di tepi Sungai Ogan, Sumatera Selatan, Syekh Siti Jenar menekuni pengetahuan Kosmologi Emanasi yang dikenal sebagai Martabat Tujuh atau nûrun ‘alâ nûr, Cahaya Mahacahaya. Di sinilah doktrin Tauhid Wujud mulai bersemi.