Dari Pinangan Gagal ke Perang Pati 1627: Pragola II vs Sultan Agung
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Dede Nana
22 - Aug - 2025, 01:56
JATIMTIMES - Di awal abad ke-17, Pati, kota pesisir utara Jawa, menjadi panggung konflik yang memadukan asmara, ambisi, dan kekuasaan. Kota ini dikuasai Adipati Pragola II, cucu Ki Panjawi dan putra Pragola I, penguasa sebelumnya yang mundur pada 1600.
Dalam Serat Kandha, Pragola II disebut sebagai “ipar Raja yang lebih muda,” sementara istrinya disebut “ipar wanita yang lebih muda.”
Baca Juga : Diskominfo Kabupaten Jember, Gelar Pelatihan Operator PPID
Berdasarkan penelusuran penulis, pernikahan ini menghubungkan Pragola II langsung dengan keraton Mataram, karena istrinya, Raden Ajeng Tulak (Ratu Sekar), adalah putri Kanjeng Ratu Mas Hadi dan Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati (Raja Mataram II), sekaligus saudara kandung Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Dengan demikian, pernikahan Pragola II bukan sekadar urusan keluarga, tetapi perkawinan politik yang menegaskan aliansi antara Mataram dan Pati. Tradisi ini sejalan dengan langkah sebelumnya oleh Pragola I, yang menikahkan saudara perempuannya dengan Senapati, ibu Hanyakrawati.
Kedua cabang keturunan Sela, yang berselimut legenda, tetap saling terkait, memperkuat jaringan politik dan legitimasi kekuasaan di Jawa.
Namun, sejarah Pati antara pemberontakan pertama tahun 1600 hingga awal 1620-an tetap kabur. Peta Belanda awal abad ke-17 masih menunjukkan nama Pati, tetapi teks Jawa tidak menyebutkannya.
Beberapa sejarawan menduga kota ini kadang disebut sebagai Cajaon (kemungkinan Juwana), tempat yang memiliki raja sendiri, meskipun pelayaran di sekitarnya relatif sepi.
Selama masa pemberontakan Demak 1602 dan tahun-tahun berikutnya, Pati tampaknya tidak memainkan peran signifikan, kemungkinan karena posisi geografisnya yang terlindungi oleh tembok kota. Serangan dari timur pada 1616 dilaporkan mengabaikan kota ini.
Pragola I tercatat dalam Babad Tanah Jawi sebagai tokoh yang berpartisipasi dalam penaklukan Lasem, dan turut serta dalam serbuan ke Tuban. Pada 1620, Adipati Pati beserta istri dan putranya menghadap Raja Mataram, sebuah tindakan yang bisa dianggap penghormatan simbolis terhadap pusat kekuasaan.
Namun, kedatangan mereka juga menunjukkan perhatian Pragola terhadap urusan regional dan posisi strategis Pati sebagai tetangga Mataram.
Pembangkangan Pertama: Ambisi dan Asmara 1624

Faktor personal menjadi pemicu awal konflik. Pada 1624, laporan Hendrick de Haen menyebutkan Pragola II bertindak sebagai penguasa mandiri. Ia berseteru dengan seorang bangsawan kaya di Jepara karena ingin menikahi putrinya.
Upaya diplomasi awal mengirim dua gajah beserta beberapa orang terkemuka yang membawa emas, perak, kain, dan sirih ditolak. Gadis itu telah dijodohkan dengan orang lain, sehingga pinangan Pragola gagal.
Kemarahan Pragola segera bereskalasi menjadi kekerasan. Esoknya, ia mengirim 2.000–3.000 prajurit untuk merebut putri tersebut secara paksa, merampas kekayaan keluarga bangsawan, dan meratakan rumah mereka. Kiai Demang Laksamana, Patih Jepara, membantu bangsawan tersebut dengan 400 prajurit tambahan, sementara orang pembesar membawa 300 prajurit.
Mereka menganggap tindakan Pragola bukan sekadar soal asmara, tetapi upaya memperluas kekuasaan Pati ke wilayah sekitarnya.
Situasi ini mengundang perhatian Sultan Agung, yang saat itu tengah sibuk menghadapi perlawanan Surabaya. Laporan menyebutkan kemarahan Mataram terhadap tindakan Pragola II dapat dimengerti: adipati muda ini tidak hanya menginginkan seorang gadis, tetapi juga memamerkan kekuasaannya. Pragola, yang memiliki gajah dan kuda tunggangan, memperlihatkan simbol kekuasaan dan ambisi politiknya.
Perkawinan Politik dan Diplomasi Kekuasaan
Konflik asmara kemudian berubah menjadi intrik politik. Jan Vos, kepala perdagangan Belanda, mencatat pada 28 Agustus 1624 bahwa Raja Mataram sedang mengawinkan putranya dengan putri raja kota Pati.
Mempelai pria berusia lima tahun, sementara putri Pragola II juga kemungkinan masih sangat muda. Perkawinan ini mencerminkan strategi diplomasi: konflik yang awalnya bersifat pribadi dijadikan instrumen perdamaian politik.
Pragola II sendiri aktif dalam upaya memperkuat pengaruhnya. Ia ikut serta dalam penaklukan Madura dan tampil sebagai pemimpin laskar pesisir dari Juwana, serta menjadi panglima tertinggi ketika Sujanapura gugur. Upaya ini menunjukkan bahwa Pragola tidak hanya ambisius secara personal, tetapi juga memiliki visi politik yang lebih luas, menggabungkan kekuatan militer dengan aliansi keluarga.
Pemberontakan Besar Pati 1627

Eksperimen Sultan Agung untuk menenangkan Adipati Pragola II melalui perkawinan politik memang berhasil sementara, tetapi ketegangan tidak sepenuhnya hilang. Pemberontakan besar di Pati pada 1627, menurut catatan lisan dan Babad Jawa, terkait dengan desersi pejabat penting Mataram, termasuk Tumenggung Endranata.
Hal ini menunjukkan bahwa meski kekuasaan pusat berada di puncak, istana Mataram tetap sarat ketegangan internal dan intrik politik.
Laporan Belanda tanggal 27 Oktober 1625 menggambarkan mimpi Sultan Agung, yang melihat bayangan seorang suci berpakaian putih. Dalam mimpi itu, ia diberitahu bahwa empat pejabat penting harus disingkirkan. Sultan kemudian memilih empat orang tersebut dan meminta pertimbangan penasihat lainnya.
Kisah ini menegaskan bahwa istana Mataram pada periode itu penuh dengan kecemasan mengenai loyalitas pejabat tinggi, dan menunjukkan hubungan internal yang rapuh meskipun kekuasaan kerajaan tampak kokoh.
Peristiwa pemberontakan ini menjadi titik balik dalam hubungan Mataram dengan Pati. Adipati Pragola II, yang sebelumnya berdamai melalui perkawinan politik, menunjukkan ambisi dan kemandirian yang membuat pihak istana harus waspada.
Narasi lisan dan dokumen Belanda menggambarkan dinamika ini sebagai kombinasi antara intrik keluarga, kepentingan politik, dan ketegangan antara pusat dan daerah taklukan.
Perlawanan Pragola II mencapai puncaknya pada tahun 1627, ketika ia secara terbuka menantang otoritas Sultan Mataram, memicu konflik yang kemudian dikenal sebagai Kematian Pragola II dan Penumpasan Pemberontakan Pati.
Kematian Pragola II dan Penumpasan Pemberontakan Pati

Tahun 1627 menjadi titik penting dalam sejarah Jawa Tengah, ketika Adipati Pragola II dari Pati memutuskan untuk menantang otoritas Sultan Mataram. Peristiwa ini bukan sekadar konflik lokal, melainkan cerminan kompleksitas politik, sosial, dan spiritual Jawa pada awal abad ke-17, ketika legitimasi kekuasaan dipertaruhkan melalui persekutuan keluarga, sumpah setia, dan pertempuran terbuka.
Pragola II dikenal sebagai penguasa yang ambisius. Setelah menguasai sebagian besar daerah utara, ia mengangkat enam bupati yaitu Mangunjaya, Kanduruwan, Raja Menggala, Toh Pati, Sawunggaling, dan Sindureja untuk mendukungnya. Semua kecuali Mangunjaya bersumpah setia sampai mati. Meski sebagian besar bupati setia, Pragola tidak ragu menyiapkan pasukan besar setiap hari, memperlihatkan keseriusan dan kesiapan militernya.
Kabar tentang pemberontakan ini sampai ke istana Mataram. Pada Hari Raja, Sultan Agung menanyakan ketidakhadiran Pragola II. Tumenggung Endranata melaporkan bahwa seluruh utara, kecuali Demak, telah tunduk pada Pragola.
Baca Juga : Aset Miliaran Rupiah Disita Kejaksaan dalam Kasus Korupsi Polinema
Kemarahan Sultan memuncak, dan ia memutuskan memimpin sendiri pasukan untuk menumpas pemberontakan. Persiapan dilakukan secara detail: sebelah kanan dipimpin Adipati Martalaya, kiri oleh Pangeran Sumedang, sementara orang Madura memimpin bagian tengah.
Di belakang, rakyat Kedu, Bagelen, dan Pamijen mengikuti, ditambah 2.000 pengawal kerabat Sultan. Setiap kapendak dan prajurit diikutsertakan. Dengan barisan ini, pasukan Mataram bergerak menuju Pati melewati Taji dan Pajang.
Kedatangan pasukan Mataram memicu kepanikan di desa-desa sekitar Pati. Penduduk berhamburan ke kota, sementara Pragola mempersiapkan “Hari Kaja” sebagai bentuk legitimasi dan perayaan kemenangan lokal.
Ia menyambut tamu dari daerah taklukannya dan memaparkan alasan perlawanan secara panjang lebar. Namun, di balik narasi ini, tampak ada unsur propaganda: Babad Tanah Djawi sengaja menonjolkan keberanian Pragola, sekaligus mereduksi dampak kekerasan internal, misalnya pengkhianatan Tumenggung Endranata.
Pada malam menjelang pertempuran, Sultan Agung mempersiapkan diri dengan penuh simbolisme. Ia mandi, mengenakan pakaian pusaka dan jimat-jimat yang diyakini membawa keberanian dan perlindungan.
Pagi berikutnya, pasukan Mataram berbaris rapi, sementara Sultan bersembunyi di balik pagar tanaman jarak untuk mengamati musuh. Pertempuran dimulai dengan serangan Pragola ke sayap kanan, di bawah pimpinan Martalaya dan Endranata, yang awalnya menimbulkan kerugian besar bagi Mataram.
Raja Niti, Mangun Oneng, dan Kartajaya gugur, dan Tumenggung Endranata melarikan diri, meninggalkan kesan pengkhianatan yang akan menjadi isu moral dalam cerita lisan.
Meski awalnya Mataram mengalami kerugian, gong pusaka Kiai Bicak dibunyikan untuk membangkitkan semangat pasukan. Suara gong yang nyaring seakan menjadi doa kolektif, menggerakkan prajurit yang sempat mundur untuk maju kembali.
Strategi dan simbolisme ini menunjukkan bagaimana spiritualitas dan kepercayaan pusaka berperan dalam memobilisasi pasukan. Pragola II, walau masih optimis, mulai kehilangan kendali. Sultan Agung mengarahkan pengawal dan keluarganya untuk menyerang, termasuk Pangeran Purbaya yang memimpin pasukan keluarga.

Pertempuran berakhir tragis bagi Pragola II. Banyak pemimpin Pati tewas, termasuk Adipati Kanduruwan, Prawirataruna, Toh Pati, Tumenggung Sindureja, dan Raja Menggala, sementara Tumenggung Sawunggaling ditangkap. Pragola II sendiri jatuh akibat tusukan Naya Derma dengan tombak keramat Kiai Baru, meski hanya luka ringan. Kematian Pragola II menandai runtuhnya struktur kekuasaan Pati dan kemenangan mutlak Mataram.
Pasca-pertempuran, Sultan Agung melakukan pembersihan sistematis. Pasukan yang tersisa dihancurkan, jenazah Pragola II ditegakkan, dan pusaka serta jimat diambil. Istana Pati dirampok oleh Tumenggung Alap-Alap dan pasukannya; para wanita priayi dibawa ke Mataram dengan tandu.
Sultan Agung juga memerintahkan eksekusi Tumenggung Endranata, yang dianggap sebagai penghasut utama pemberontakan, dengan perutnya dipertontonkan di Pasar Gede sebagai peringatan bagi siapa pun yang berniat menentang pusat.
Analisis historis menunjukkan bahwa pemberontakan Pragola II tidak hanya merupakan konflik politik semata. Legitimasi, dendam sejarah, dan simbolisme spiritual memainkan peran sentral. Gong Kiai Bicak dan tombak Kiai Baru bukan sekadar senjata, melainkan media moral dan spiritual yang mengikat pasukan kepada kesetiaan dan keberanian.
Cerita lisan Jawa dan Babad Tanah Djawi, walau literer dan dramatik, mengungkapkan bagaimana perlawanan lokal sering dimediasi oleh kepentingan simbolik dan moral, bukan hanya strategi militer.
Sumber Belanda, seperti laporan Coen dan Van Goens, memperkuat inti cerita Jawa: kemenangan mutlak Mataram atas Pati. Van Goens mencatat bahwa kota Pati yang dikelilingi tembok tebal mengalami kehancuran total, dan korban jiwa mencapai ratusan ribu.
Namun, detail tentang pengepungan dan eksekusi massal berbeda dengan narasi Jawa, menunjukkan perbedaan fokus historiografis: Jawa menekankan heroisme dan drama moral, sedangkan Belanda menekankan statistik dan kerusakan material.
Di tengah kehancuran ini muncul kisah yang humanis dan menyentuh: Rara Mendut, seorang wanita priayi dari Pati yang menjadi tawanan perang. Keindahan dan keberaniannya menonjol di antara kesedihan dan kehancuran.
Jejak kisahnya diabadikan dalam puisi Pranacitra, yang menegaskan bagaimana perang memengaruhi kehidupan pribadi dan identitas sosial, serta meninggalkan bekas budaya yang tetap hidup melalui tradisi lisan. Rara Mendut tidak hanya menjadi saksi kekejaman perang, tetapi juga simbol bagaimana perempuan priayi dipaksa masuk dalam pusaran kekerasan politik, sekaligus mempertahankan martabat dan keberadaan mereka.
Pemberontakan Pragola II menegaskan bahwa kekuasaan di Jawa abad ke-17 tidak dapat dipahami hanya melalui kekuatan militer. Faktor sosial-politik, ideologi kerajaan, spiritualitas, dan reputasi pribadi menjadi determinan utama. Kematian Pragola II adalah simbol runtuhnya tantangan terhadap otoritas Mataram sekaligus pengingat bahwa perlawanan lokal selalu diwarnai oleh campuran ambisi, dendam, dan legitimasi spiritual.
Dalam konteks historiografi, peristiwa ini mengilustrasikan bagaimana Babad dan laporan Belanda saling melengkapi: satu menekankan moral dan heroisme, yang lain mencatat fakta material dan korban perang.
Dengan demikian, penumpasan pemberontakan Pati pada 1627 bukan sekadar cerita tentang kekalahan seorang adipati, tetapi juga refleksi kompleksitas hubungan pusat-daerah, nilai simbolik pusaka, dan peran spiritualitas dalam membentuk keberanian serta kesetiaan. Pragola II tetap hidup dalam narasi sejarah sebagai tokoh yang menantang Mataram, sementara pelajaran dari peristiwa ini terus mempengaruhi pemahaman kita tentang kekuasaan, legitimasi, dan konflik di Jawa pada masa awal kerajaan Mataram.
Nilai dan Pesan untuk Bangsa

Kisah Pragola II mengajarkan beberapa pelajaran penting bagi bangsa. Pertama, kepemimpinan tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan pribadi atau militer; legitimasi, strategi politik, dan kemampuan membangun jejaring sosial sama pentingnya. Pragola II menunjukkan bahwa ambisi tanpa pertimbangan moral dan aliansi dapat berakhir tragis, sementara kesetiaan dan kolaborasi menjadi fondasi stabilitas.
Kedua, kisah ini menekankan perlunya keseimbangan antara otoritas pusat dan kemandirian daerah. Konflik Pati menunjukkan bahwa ketegangan antara kepentingan lokal dan kepentingan nasional atau pusat bukan sekadar persoalan kekuasaan, tetapi menyentuh moral, identitas, dan keberlangsungan komunitas.
Ketiga, kisah Pragola II menegaskan peran simbolisme, nilai budaya, dan spiritualitas dalam kehidupan politik. Gong, tombak pusaka, serta ritual istana bukan sekadar kepercayaan, tetapi alat moral yang menyatukan rakyat dan membangun keberanian kolektif. Dalam konteks bangsa modern, ini mengingatkan kita bahwa identitas budaya dan nilai-nilai moral tetap relevan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Akhirnya, kisah ini mengajarkan kewaspadaan terhadap ambisi yang tidak terkendali dan pentingnya introspeksi pemimpin. Kegagalan Pragola II menjadi peringatan bahwa ambisi tanpa kontrol dan tanggung jawab bisa menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Sebagai bangsa, kita belajar dari sejarah bahwa kepemimpinan yang bijak mengutamakan kesejahteraan rakyat, ketaatan terhadap hukum, dan penghormatan terhadap nilai budaya.
