Puluhan Sekolah di Kota Batu Mulai Uji Coba Pembelajaran Coding dan AI

14 - Aug - 2025, 06:09

Pembelajaran pemrograman atau Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dilakukan di SMPN 2 Batu.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menetapkan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (KKA) sebagai mata pelajaran pilihan dalam Kurikulum Merdeka.

Kebijakan tersebut tertuang pada mata pelajaran informatika yang di dalamnya terdapat elemen berpikir komputasional dan algoritma pemrograman. Di Kota Batu, sekitar 40 sekolah telah melakukan uji coba.

Baca Juga : Kreatif, Mahasiswa Unikama Ubah Cara Belajar Siswa Jadi Anti Bosan

Puluhan sekolah yang melakukan uji coba itu mendapatkan pendidikan dan pelatihan (diklat) sebelumnya. Dari total itu, sebanyak 28 sekolah pada jenjang SD dan 12 sekolah pada jenjang SMP.

Kepala bidang (Kabid) Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Batu Daud Andoko menyebut, lembaga SD dan SMP terpilih telah mengikuti pelatihan pada bulan Juli lalu. Namun, itu hanya diikuti oleh sekolah yang mendapat kucuran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja.

"Sehingga, pencairannya dialihkan menjadi program pelatihan," jelasnya saat dikendarai, belum lama ini.

Diklat diberikan oleh pihak swasta yang direkomendasikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Batu. Dalam hal ini, Kota Batu menunjuk penyedia dari Kodekiddo asal Kota Surabaya.

"Setiap sekolah menyetorkan masing-masing satu guru yang memiliki kemampuan IT untuk mengikuti pelatihan selama satu pekan," tuturnya.

Dikatakannya, sekolah akan dibebaskan memilih implementasi pembelajaran KKA tersebut. Baik tiga opsi pembelajaran KKA yaitu sebagai mata pelajaran pilihan, terintegrasi denagn mapel yang ada, atau sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Salah satu sekolah yang telah mengimplementasikan pembelajaran KKA adalah SMPN 2 Batu. Guru Informatika SMPN 2 Batu Rateh Denok Viannata mengatakan, untuk jenjang pemula jenis koding yang diajarkan lebih sederhana dan bersifat visual.

Baca Juga : Bank Sampah dan Jahit, Wujud Pemberdayaan Ekonomi Kampung Pancasila Rangkah

"Kami sudah terapkan coding baik secara plugged hingga unplugged atau tanpa perangkat komputer," ungkap Rateh saat ditemui, belum lama ini.

Ia menerangkan, salah satu cara tanpa komputer yakni dengan menggunakan permainan brick. Penyusunan brick akan mengukur kemampuan siswa dalam berpikir secara terarah dan sistematis. Sementara jika menggunakan perangkat, dapat memakai aplikasi blockly games sebagai pemula belajar coding.

Dalam game tersebut, siswa akan diminta untuk menyusun beberapa gambar dari sebuah puzzle. Hingga akhirnya dapat membentuk satu buah gambar yang utuh. "Intinya coding yang kami ajarkan yang paling mendasar, khususnya dalam hal kemampuan pemecahan masalah yang dipahami oleh komputer," jelasnya.

Setelah mampu memahami pemrograman dasar, Rateh akan mulai mengajarkan scratch coding. Dalam tahap tersebut, anak akan mampu membuat animasi, permainan, cerita interaktif dan berbagai karya lain yang divisualisasikan lewat bahasa pemrograman. Hal itu akan terintegrasi dengan AI atau kecerdasan artifisial.

Rateh menambahkan, tidak ada kendala yang berarti selama proses pembelajaran. Bahkan, para siswa sangat tertarik untuk belajar pemrograman lebih lanjut. Hanya ada beberapa kendala teknis. Misalnya memang jam pelajaran terbatas sehingga kadangkala belum selesai sudah habis jam mengajar. "Kadangkala perangkat komputer yang ada di sekolah kadangkala belum memenuhi kriteria atau lemot," tambahnya.