Dari Perampok Ditakuti Menjadi Sufi Besar: Kisah Transformasi Fudhail bin Iyadh
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
10 - Aug - 2025, 10:15
JATIMTIMES - Nama Fudhail bin Iyadh tercatat sebagai salah satu tokoh sufi besar dalam sejarah Islam. Sosoknya dihormati bukan hanya karena kedalaman ilmu dan ketakwaannya, tetapi juga karena perjalanan hidupnya yang penuh perubahan dramatis, dari seorang perampok yang ditakuti menjadi ulama yang disegani.
Dikisahkan dalam buku Kumpulan Kisah Teladan karya Hasballah Thalib dan Zamakhsyari Hasballah, Fudhail lahir di Samarqand dan tumbuh di wilayah Abi Warda, Khurasan. Tahun kelahirannya tak tercatat pasti, namun ia pernah menyebut usianya mencapai 80 tahun. Masa mudanya nyaris luput dari catatan sejarah, kecuali satu hal: reputasinya sebagai penyamun yang menghadang para musafir di jalur Abu Warda-Sirjis.
Baca Juga : Unik, UIBU Kenalkan Kampus ke Mahasiswa Baru lewat Sarapan Pecel
Perubahan besar dalam hidupnya berawal dari sebuah malam ketika ia memanjat tembok rumah seorang wanita karena tergoda hawa nafsu. Di tengah aksinya, telinganya menangkap lantunan ayat Al-Qur’an dari surah Al-Hadid ayat 16:
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, tunduk hati mereka untuk mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)."
Ayat itu menghunjam hatinya. “Tentu saja wahai Rabbku, sungguh telah tiba saatku untuk bertaubat,” gumamnya lirih. Malam itu ia beristirahat di reruntuhan bangunan, dan tanpa sengaja mendengar sekelompok musafir membicarakan rencana mereka untuk menunda perjalanan karena takut disergap olehnya. Kata-kata itu menusuk perasaannya.
Ia sadar telah menjadi sumber ketakutan umat Islam. “Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu, dan aku akan mengabdikan hidupku di Baitullah,” ucapnya dalam doa yang mengubah arah hidupnya selamanya.
Usai bertaubat, Fudhail menempuh perjalanan ilmu ke Kufah. Ia belajar dari para ulama besar seperti Manshur, Al-A’masy, ‘Atha’ bin As-Saaib, dan Shafwan bin Salim. Kemudian ia menetap di Makkah, hidup sederhana, dan bekerja mengangkut serta menjual air untuk menghidupi keluarga.
Baca Juga : Bedah Kurikulum PG-PAUD Unikama: Dari Malang Sentuh Isu Nasional Pendidikan Anak Usia Dini
Keistiqamahannya dalam menjaga kesucian rezeki membuatnya menolak pemberian dari raja dan pejabat, khawatir akan kehalalan harta mereka. Ia hanya mau menerima hadiah dari sahabatnya yang saleh, Abdullah bin Al-Mubarak.
Fudhail wafat di Makkah pada bulan Muharram tahun 187 Hijriyah. Warisannya bukan hanya dalam bentuk ilmu, tetapi juga teladan bahwa hidayah Allah dapat datang kapan saja, bahkan kepada mereka yang pernah terjerumus jauh dalam kemaksiatan.
Kisahnya menjadi pengingat abadi: setiap hati, tak peduli seberapa keras, selalu punya kesempatan untuk luluh dan kembali kepada-Nya.
