Arya Blitar: Raja Tandingan Kartasura yang Gugur di Lumajang
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Yunan Helmy
06 - Aug - 2025, 05:03
JATIMTIMES - Di antara kepingan babad Jawa yang menuturkan dentang senjata, dendam, dan runtuhnya harapan, Babad Kartasura memotret satu episode paling getir, yaitu wafatnya Pangeran Arya Blitar di perantauan, jatuhnya benteng Kapurbayan, dan padamnya bara Kartasekar, sebuah kerajaan tandingan yang hendak lahir tetapi remuk sebelum sempat tegak. Dalam bait-bait pangkur itu, tragedi pribadi bertaut dengan pergeseran kekuasaan, perlawanan feodal, dan denyut spiritualitas yang tergerus oleh meriam Kompeni.
Sang Pangeran gugur jauh dari tanah kelahirannya. Sebuah ironi yang pahit. Sebab ia pernah menjadi pahlawan bagi ayahnya sendiri, Susuhunan Pakubuwana I. Dialah raja yang pernah memercayakan medan tempur kepadanya demi menumpas musuh dan menjaga kejayaan Kartasura. Namun setelah sang ayah wafat, takhta justru berpindah ke tangan sang adik melalui restu Kompeni, sementara sang pangeran disingkirkan dan terasing dari kekuasaan yang dulu ia bela.
Panggung Pertama Sang Pangeran
Baca Juga : Panggung Dramasoka: Ketika Bupati Blitar Jadi Resi dan Forkopimda Jadi Pendekar
Panggung pertama Pangeran Arya Blitar, yang bernama asli Raden Mas Sudomo, terbuka saat Perang Suksesi Jawa pertama meletus pada tahun 1704. Sebagai putra Pakubuwana I, Sudomo ditugaskan memimpin pasukan kerajaan menumpas loyalis Amangkurat III di wilayah timur. Ia digerakkan ke Malang, Pasuruan, dan Lumajang, daerah-daerah yang menjadi kantong perlawanan terhadap Kartasura. Di medan ini, Sudomo menunjukkan bakat tempurnya. Namun kemenangan itu menyisakan benih konflik baru. Di mata rakyat desa, pasukan Arya Blitar dianggap lebih disiplin dan terhormat dibanding tentara pusat.
Dalam sejumlah babad, pengaruh pasukan Arya Blitar bahkan melampaui wibawa Kartasura. Situasi ini membuat keberadaan Sudomo di wilayah timur terasa mengancam, bukan bagi musuh, tetapi bagi saudara-saudaranya sendiri.
Ketegangan memuncak pada tahun 1719, saat Pakubuwana I wafat. Alih-alih melalui musyawarah para pangeran dan bupati, takhta justru diberikan kepada Amangkurat IV, adik kandung Arya Blitar, dengan restu langsung dari Kompeni Belanda. Bagi para bangsawan yang telah terbiasa dengan legitimasi internal istana, campur tangan Batavia terasa seperti tikaman di dada. Patronasi asing mulai merasuki sumsum kekuasaan. Arya Blitar dan Pangeran Purbaya menjadi korban pertama dari gelombang pembersihan. Apanage penting seperti Jagaraga dan Blora dicabut dari penguasaan mereka. Dalam sistem feodal Jawa, hilangnya apanage berarti hilangnya eksistensi politik. Tanpa tanah, seorang bangsawan kehilangan prajurit, pendapatan, dan martabat.
Terdesak oleh tekanan istana dan kehilangan basis kekuasaan, Arya Blitar menarik diri ke Kartasekar. Tempat ini adalah situs keramat di wilayah Bantul yang sejak era Sultan Agung dikenal sebagai pusat spiritual sekaligus benteng pertahanan. Di sana, Arya Blitar tidak sekadar berlindung, tetapi memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana. Ia mengajukan narasi tandingan bahwa darah raja lebih sah dibanding restu kolonial. Takhta, menurutnya, tidak layak ditentukan lewat surat dari Batavia, tetapi harus lahir dari pusaka leluhur dan jejak spiritual Mataram. Kartasekar pun menjelma bukan hanya sebagai benteng fisik, tetapi juga simbol perlawanan, tempat marwah Mataram berusaha dipulihkan dari dominasi asing.

Kapurbayan: Janji Kesaktian yang Rapuh
Pangeran Arya Blitar, bersama Panembahan Purbaya, berdiri di benteng Kapurbayan dengan satu mimpi, yaitu menantang Kartasura yang telah merangkul Kompeni dan menumbuhkan kerajaan pesisir baru yang menghidupkan kembali cita-cita tandingan. Di barisan itu terhimpun tokoh-tokoh yang kini nyaris dilupakan sejarah: Ki Dipati Natapura, Raden Jimat, Panembahan Herucakra, Raden Surapati, Suradilaga, dan Tirtanata.
Kapurbayan sejak lama diyakini sebagai simpul sakral, markas perlawanan yang memayungi pasukan Panembahan Purbaya di tapal timur, perbatasan antara pesisir dan pegunungan. Di mata Amral Baritman, panglima Kompeni Belanda yang memimpin pasukan Kartasura, Kapurbayan hanyalah duri penghalang jalur rempah dan pajak beras. Bagi Kompeni, basis itu harus dipatahkan, bukan sekadar membubarkan pasukan, melainkan mencabut akar dendam yang bersemi di dalamnya.
Madiun: Ombak Samudra yang Mencabik Pertahanan
Pertempuran memuncak di Madiun, tempat barisan Kartasura dan Kompeni berhadap-hadapan dengan pasukan Kapurbayan. Babad Kartasura menuturkan bagaimana Dipati Kartasura Mangkupraja, bersama Kompeni, menempatkan pasukannya di jantung pertahanan. Pengawal kiri dan kanan diisi oleh prajurit dari pesisir, sedangkan barisan depan bergulung bagaikan ombak samudra.
Di seberang medan, Pangeran Arya Blitar berdiri berdampingan dengan Panembahan Purbaya. Sayap kiri dipegang Dipati Natapura, kanan Raden Jimat, seratus prajurit Madura berdiri gagah, dipimpin Panembahan Herucakra.
Letusan senjata menandai peperangan pertama. Dipati Natapura, bagai kerbau amuk, menghantam pasukan pesisir. Barisan Kompeni kocar-kacir sejenak. Panembahan Herucakra memacu pasukan watangnya, pedang menebas, keris berkilat. Sementara Raden Jimat, adik Pangeran Cakraningrat dari Madura, menyerbu pasukan Kompeni di tengah barisan.
Melihat adiknya terjun ke medan, Cakraningrat memerintahkan prajurit Madura menyusul. Gelombang pasukan Madura menyerbu, senjata terhunus, dentum senapan bersahut di ladang padi Madiun.
Kiai Tohjaya, Pesisir, dan Dendam Lamongan
Tidak hanya Madura. Kiai Tohjaya memimpin pasukan Lamongan, menembus barisan mancanegara. Natapura dan Herucakra bergantian menerjang pasukan pesisir. Orang Surabaya, Madura, Lamongan, bagai badai yang menelan ladang-ladang. Babad menggambarkan bagaimana Kompeni mulai kacau: prajurit pesisir kocar-kacir, sebagian lari tunggang langgang.
Namun Amral Baritman tidak kehilangan akal. Ia mengumpulkan sisa pasukan, meriam gurnad dan gurnada diisi ulang. Dentum meriam membabat ladang, menghantam pasukan Kapurbayan. Panembahan Purbaya terus memimpin di garis terdepan, darah sudah menggenang di selokan irigasi.
Petang menjelang. Pasukan Kapurbayan menarik diri ke Madiun, menepi ke kampung, rakyat menambal pagar bambu, berbisik takut kalau peluru Kompeni datang lagi. Malam itu, Madiun tidur di bawah gemuruh dendam.
Mundur ke Timur: Kaweran hingga Kediri
Pagi berikutnya, Panembahan Purbaya, Pangeran Arya Blitar, dan pasukan Madura, Surabaya, Lamongan bergerak ke timur. Desa Kaweran, Ponorogo: lagi-lagi terjadi baku senjata. Kekuatan tidak seimbang. Kapurbayan melemah, Kompeni menambah pasukan. Mereka mundur ke Kediri.
Di Kediri, Panembahan Purbaya dipertemukan dengan tiga putranya, yaitu Raden Surapati, Suradilaga, dan Tirtanata. Pertemuan itu dikisahkan penuh haru. Purbaya mengenakan busana kebesaran kepada ketiganya, sebuah ritual feodal untuk merawat moral pasukan, meskipun di luar dinding, Kompeni telah menebar kabar bahwa Kapurbayan akan habis.
Kapten Konar, Benggol, dan Pangkal Kekalahan
Amral Baritman tak memberi jeda. Setengah bulan pertempuran berlangsung di sekitar Bengawan. Ngabehi Lamongan mengerahkan prajurit Makasar dan Bali untuk menyeberangi sungai. Kapten Konar, Benggol, Panbayi, Buhung, dan Letnan Jembaran adalah nama-nama perwira Kompeni yang mencatat luka bagi Kapurbayan.
Panembahan Purbaya memerintahkan Natapura, Tirtanata, Surapati bertahan di Daha. Namun Daha jatuh. Mamenang runtuh. Pertahanan porak-poranda. Barisan Kapurbayan mundur ke Malang, satu per satu benteng jatuh ke tangan Kompeni.
Pangeran Madiun yang masih gigih bertahan akhirnya tertangkap. Tumenggung Jipang menyeretnya ke Kartasura, dan di penjara ia dihukum dilawe, yaitu hukuman mati yang dilakukan perlahan dengan mencincang tubuh. Sebuah simbol bahwa Kartasura tidak akan membiarkan sisa dendam menetas kembali.
Harapan di Malang: Wabah, Gunung, dan Pedang
Malang menjadi pangkalan terakhir. Arya Blitar, mendengar Kediri jatuh, memimpin pasukan mencoba merebut kembali Kediri. Di Pongpongan, meriam Kompeni menyalak, menumbangkan pasukan Kasultanan. Mereka kocar-kacir ke gunung, kemudian mundur lagi ke Malang.
Amral Baritman, yang sempat singgah di Surabaya, memerintahkan gempuran terakhir ke Malang. Namun wabah menimpa pasukan Kartasura: di Lebak, seratus prajurit sehari mati muntah dan sakit perut. Seakan alam pun ikut campur, menunda sejenak keruntuhan Kapurbayan.
Tetapi waktu berpihak pada senapan. Malang jatuh. Kiai Tumenggung Sindurja dipenggal. Arya Blitar menyingkir ke Lumajang. Panembahan Purbaya, Herucakra, Surapati, Suradilaga, Tirtanata, dan Raden Jimat tercerai-berai. Barisan Kapurbayan melebur di antara bukit dan rimba.
Kaligangsa: Sang Pangeran Pamit
Baca Juga : Petani Blitar Bangkit Lewat DBHCHT: Infrastruktur Tuntas, Produksi Meningkat
Di Kaligangsa, Lumajang, Pangeran Arya Blitar menetap. Tubuhnya rapuh. Di sanalah segalanya berakhir. Sang Sultan jatuh sakit dan meninggal di perantauan. Takhta Kartasekar lenyap tanpa pernah benar-benar terwujud.
Kiai Tumenggung Jayabrata setia membawa jenazah Arya Blitar ke Kartasura. Beberapa istri Arya Blitar turut mengiringi perjalanan itu. Babad Kartasura mencatat, dalam larik-lariknya, bagaimana Kartasura menerima peti mati dengan keheningan. Dendam yang dahulu ingin dihapus oleh Sultan Blitar, justru kembali diletakkan di pangkuan musuhnya.Jenazah Pangeran Arya Blitar, raja Kartasekar yang tak diakui oleh VOC, kemudian dimakamkan di Astana Panitikan, Umbulharjo, Yogyakarta.
Wafatnya Sultan Blitar menandai berakhirnya cita-cita Kartasekar. Dari Madiun ke Kaweran, Kadiri, Daha, Malang, hingga Lumajang, jejak itu membentuk peta kehancuran benteng Kapurbayan. Peristiwa itu menjadi penanda perpisahan, perpisahan bagi garis keturunan pesisir, perpisahan bagi perlawanan feodal yang tak lagi sanggup menahan arus mesiu.
Pada akhirnya, dendam tetap hidup di balik tembok Kartasura. Babad Kartasura mencatat dengan getir bahwa di tanah Jawa, takhta bisa jatuh, benteng bisa rubuh, tetapi dendam jarang benar-benar padam.

Darah Blitar dan Purbaya: Ramalan yang Menjadi Takhta
Arya Blitar adalah putra Pakubuwana I dengan Ratu Mas Blitar. Ia dikenal sebagai bangsawan pemberontak yang menentang dominasi Kompeni dan memilih jalan pedang demi kehormatan Mataram.
Sang ibu, Kanjeng Ratu Mas Blitar, adalah salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah dinasti Mataram Islam. Ia adalah permaisuri dari Susuhunan Pakubuwana I, dan menjadi leluhur utama dari empat garis kekuasaan besar di Tanah Jawa: Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman. Melalui keturunan Ratu Mas Blitar inilah darah Mataram terus mengalir di antara para pewaris takhta, sekaligus membentuk peta politik baru yang lahir dari perpecahan dan restorasi dinasti.
Sebelum menjadi permaisuri, beliau dikenal dengan nama Gusti Kanjeng Ratu Puger dan tinggal di Madiun, tanah leluhur dari garis ayahandanya. Setelah Pangeran Puger dinobatkan sebagai raja bergelar Susuhunan Pakubuwana I, istrinya turut mendampingi ke Kraton Kartasura dan dianugerahi gelar kehormatan Kanjeng Ratu Mas Blitar, yang kemudian dikenal pula sebagai Ratu Pakubuwana.
Silsilah beliau menelusuri dua jalur trah besar kerajaan Islam Nusantara, yakni Kesultanan Demak dan Mataram Islam. Garis ini bermula dari Sultan Trenggono, Raja ketiga Kesultanan Demak, yang menikahi Kanjeng Ratu Pembayun, putri dari Sunan Kalijaga. Dari pernikahan ini lahirlah dua keturunan penting: Ratu Mas Cempaka dan Pangeran Timur.
Ratu Mas Cempaka menjadi permaisuri Sultan Hadiwijaya, Raja Kerajaan Pajang. Dari pasangan ini lahir Pangeran Benowo yang kemudian menurunkan seorang putri bernama Dyah Ayu Banowati. Dyah Ayu Banowati menjadi permaisuri Panembahan Hanyakrawati dan bergelar Ratu Mas Hadi.
Sementara itu, Pangeran Timur menjadi bupati pertama Kadipaten Madiun, sebuah wilayah bawahan Kerajaan Pajang. Ia menikah dengan Ratu Timur, adik Arya Penangsang. Dari pernikahan ini lahirlah Ratu Ayu Ratna Jamila, yang juga dikenal sebagai Retno Dumilah.
Retno Dumilah kemudian dipersunting oleh Panembahan Senopati, pendiri Dinasti Mataram Islam. Dari pernikahan mereka lahirlah Kanjeng Pangeran Adipati Juminah, yang lebih dikenal sebagai Panembahan Juminah. Ia menjabat sebagai Bupati Madiun dari tahun 1601 hingga 1613, dan merupakan paman dari Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Setelah wafatnya Panembahan Hanyakrawati, Sultan Agung menikahkan ibundanya, Ratu Mas Hadi, permaisuri terakhir Raja Pajang, dengan Panembahan Juminah. Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang kelak melanjutkan kepemimpinan di Madiun.
Panembahan Juminah menurunkan Pangeran Adipati Balitar II, yang menjabat sebagai Bupati Madiun dari tahun 1645 hingga 1677. Ia kemudian digantikan oleh putranya, Pangeran Tumenggung Balitar Tumapel III, yang menjabat antara tahun 1677 hingga 1703. Setelahnya, kedudukan dilanjutkan oleh putranya, Pangeran Arya Balitar IV, yang memimpin Madiun dari tahun 1704 hingga 1709. Dari garis inilah lahir Gusti Kanjeng Ratu Puger yang kelak menjadi Kanjeng Ratu Mas Blitar, permaisuri dari Susuhunan Pakubuwana I.
Dari pernikahan Kanjeng Ratu Mas Blitar dengan Pakubuwana I lahirlah tiga putra utama. Yang pertama adalah Gusti Raden Mas Suryaputra yang kelak naik takhta dengan gelar Sunan Amangkurat IV. Putra kedua adalah Gusti Raden Mas Sasangka, yang dikenal sebagai Pangeran Adipati Purbaya. Putra ketiga adalah Gusti Raden Mas Sudomo, yang kemudian menyandang gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Blitar.
Sunan Amangkurat IV menurunkan tiga tokoh penting yang kemudian menjadi pemimpin besar di Tanah Jawa. Putra sulungnya adalah Pangeran Arya Mangkunegara. Putra lainnya adalah Pangeran Prabasuyasa, yang kelak dinobatkan sebagai Susuhunan Pakubuwana II. Sementara itu, putra bungsunya adalah Pangeran Mangkubumi, pendiri dan raja pertama Kasultanan Yogyakarta, yang bergelar Sultan Hamengkubuwana I.
Sementara itu, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Arya Blitar, putra ketiga Susuhunan Pakubuwana I dan Kanjeng Ratu Mas Blitar, menurunkan seorang putri bernama Raden Ayu Wulan. Ia menikah dengan Pangeran Arya Mangkunagara, dan dari pernikahan itu lahirlah seorang tokoh besar yang kemudian dikenal sebagai Raden Mas Said. Kelak, Raden Mas Said menyandang gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I, pendiri Kadipaten Mangkunegaran.
Kelahiran Raden Mas Said dan berdirinya Mangkunegaran bukanlah peristiwa kebetulan. Sejak jauh hari, dalam berbagai naskah babad, telah tersimpan sebuah ramalan tentang cucu Panembahan Purbaya dan cucu Pangeran Blitar yang kelak akan memainkan peran besar dalam peralihan kekuasaan di tanah Jawa.

Tahun 1749 menjadi penanda runtuhnya simbolik Kartasura dan lahirnya Surakarta sebagai pusat kekuasaan baru. Saat itulah ramalan lama menemukan bentuk nyatanya. Bendara Raden Mas Suryadi, putra kelima Pakubuwana II dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Mas, putri Panembahan Purbaya, dinaikkan takhta dan bergelar Pakubuwana III. Garis darahnya yang langsung menyambung ke Panembahan Purbaya menjadikannya tokoh kunci dalam penggenapan nubuat itu.
Ramalan ini bermula dari kegagalan Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar dalam Perang Takhta Jawa II. Meski mereka kalah, para ahli tapa dan pujangga keraton menuliskan nubuat bahwa garis keturunannya akan kembali memegang kuasa. Bahkan disebutkan, keraton baru akan berdiri di wilayah timur, di tempat yang disebut dalam naskah-naskah kuno sebagai Ngadipala—nama purba dari wilayah Kadipolo, lokasi berdirinya Surakarta.
Ketika Pakubuwana II wafat mendadak, Kompeni segera menunjuk Raden Mas Suryadi sebagai penerus. Ia dipilih bukan hanya karena hak darah, melainkan juga karena politik: muda, relatif bisa dikendalikan, dan cucu dari Purbaya.
Namun, garis nubuat tidak berhenti di situ. Di luar tembok keraton, Raden Mas Said bergerak sebagai kekuatan tandingan. Sejak muda, ia melawan dominasi VOC dan menjadi panglima perang rakyat. Pada 1757, ia mendirikan Kadipaten Mangkunegaran, tepat di wilayah yang disebut ramalan: Ngadipala. Dengan berdirinya Mangkunegaran, nubuatan leluhur tentang kembalinya darah Blitar dan Purbaya ke pusat kekuasaan benar-benar tergenapi.
Dua cucu pemberontak, dua jalur takhta. Pakubuwana III menjadi raja Kasunanan Surakarta. Raden Mas Said menjadi pemimpin di luar sistem resmi, namun berdaulat penuh. Sejarawan menyebut ini sebagai duel legitimasi: istana yang disokong kolonialisme, dan istana tandingan yang dibangun dari karisma serta perjuangan.
Dalam perspektif spiritualitas Jawa, kedua tokoh ini tidak saling meniadakan. Mereka adalah dwitunggal sejarah: perwujudan dari janji lama yang tumbuh melalui darah, pertarungan, dan sabda para leluhur. Ramalan itu kini menjadi kenyataan, tercatat dalam sejarah, dan terus hidup dalam ingatan trah Mataram.
Namun perlu dicatat, nama Arya Blitar kerap menimbulkan kebingungan karena merujuk pada dua tokoh yang berbeda. Selain Raden Mas Sudomo yang menyandang gelar Pangeran Arya Blitar pada masa pemerintahan Pakubuwana I, terdapat pula sosok lain bernama Arya Balitar, seorang adipati Blitar pada masa Kesultanan Demak sekitar abad ke-15. Tokoh ini berasal dari trah bangsawan utama, sebagai putra Raden Kusen, Adipati Terung, yang juga merupakan saudara Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak. Dengan silsilah tersebut, Arya Balitar termasuk bagian dari keluarga inti Kesultanan Demak dan turut berperan dalam pembentukan kekuasaan Islam di wilayah timur Pulau Jawa.
