Visualisasikan Perjalanan Batin Manusia: Lima Seniman Muda Unjuk Karya di Galeri Raos
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Dede Nana
30 - Jul - 2025, 04:39
JATIMTIMES - Visualisasi perjalanan batin manusia menjadi diwujudkan lima seniman muda dalam pameran Berlima Project di Galeri Raos Batu, 27-30 Juli 2025. Lima seniman muda itu menelurkan puluhan karya lukisan yang mana menggunakan media yang beragam.
Sebanyak 6 karya disuguhkan oleh masing-masing seniman dengan dimensi ukuran yang berbeda-beda. Mulai 50x50 sentimeter sampai 220x80 cm dengan 3 panel. Sehingga totalnya sekitar 30 karya. Sebulan waktu persiapan yang cukup singkat bagi para perupa muda itu untuk meramu konsep bersama dengan karya-karya terbaik.

Manajer pameran sekaligus salah satu penyaji Eko Alif Vernanda mengatakan, proses penciptaan karya masing-masing seniman berbeda. "Ada yang butuh waktu sampai satu tahun, ada pula yang 5 bulan," kata Nanda, sapaannya.
Baca Juga : UB Tuan Rumah Olivia X 2025, Rektor Dorong Vokasi Jadi Motor Industrialisasi Indonesia
Seluruh lukisan yang dipamerkan, sambungnya, menggunakan media kanvas dengan menggunakan jenis cat yang beragam. Mulai dari akrilik hingga mix metode. Gaya lukisan pun berbeda. Ada yang dekoratif, populer, realisme, dan ilustrasi.

Lima penulis berasal dari latar belakang yang berbeda dilibatkan mengambil peran sebagai kurator. Di antaranya merupakan dosen, penulis buku, pegiat seni, hingga pegiat antropologi.
"Mereka berasal dari Surabaya dan Malang Raya," imbuhnya.
Dikatakan, hadirnya penulis bertugas sebagai fasilitator pelukis untuk mengantarkan penikmat karya di taraf pemahaman. Sebab, tak semua orang dapat memahami karya hanya dengan melihat. Ia menyebut, pelukis terkadang mampu menggambarkan filosofi melalui karya namun tidak semua bisa menyampaikan pesan visual melalui kata-kata.
Selain Eko Alif Vernanda, empat seniman lain yang tergabung yakni Najmil Huda, Mora John, Karina Citra, dan Gilang Widyawan. Karya-karya mereka menarik perhatian dengan detail, visualisasi yang kuat, dan warna-warna yang unik.

Mulai dari The Fight Between The Garudeya and The Dragon Snake, atau Geger Garudeya Ular Naga oleh Najmil Huda adalah sebuah meditasi visual yang menantang manusia untuk melihat lebih dalam wujud penghargaan kepada tradisi.
Baca Juga : Menjawab Tantangan Industri: Disnaker Kabupaten Blitar Latih Barber Muda dengan Sertifikasi BNSP
Selanjutnya gambaran unsur perjalanan batin dalam Humanimal atau simbol hewan pada gunungan wayang purwa sebagai penggambaran nafsu manusia oleh Eko Alif Vernanda.
Menceritakan manusia dan hewan sama-sama memiliki dorongan dasar (nafsu), namun yang membedakannya adalah akal. Manusia diberi kemampuan untuk menimbang dan mengendalikan, sementara hewan bergerak berdasarkan insting.
Disusul dengan Stoicisme atau era di mana manusia mulai berpikir oleh Mora John dalam The Timeless Stoic. Lalu memasuki rumitnya interaksi manusia melalui lagu Eternally dari TXT atau The Forgotten Pages of Us oleh Karina Citra.
"Dan yang terakhir masuk ke konflik batin melalui perjalanan menuju kematian dan pascakematian pada Megatruh dan Realisme Mitologis: Kolaborasi nilai dalam Karya Gilang," terang Nanda.
