Ratusan Jukir hingga PKL Geruduk Balai Kota Among Tani: Tolak Wacana Gate Parkir Alun-alun Kota Batu

Reporter

Prasetyo Lanang

Editor

Dede Nana

15 - Jul - 2025, 03:39

Ratusan orang dari paguyuban parkir hingga PKL dan jasa permainan anak di Alun-alun Kota Batu melakukan aksi damai menolak gate parkir Alun-alun di Balai Kota Among Tani, Selasa (15/7/2025).(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Wacana penerapan gate parkir pada area Alun-alun Kota Batu mendapat respons dari para juru parkir (Jukir), pedagang kaki lima (PKL) hingga pelaku permainan. Ratusan orang dari mereka mendatangi Balai Kota Among Tani untuk menyampaikan aspirasinya melalui aksi damai, Selasa (15/7/2025).

Ratusan orang dari paguyuban parkir hingga PKL Alun-alun itu datang membawa spanduk bertuliskan penolakan gate parkir. Program lama yang baru hendak direalisasikan itu dikhawatirkan bakal menimbulkan masalah keruwetan akses keluar dan masuk area alun-alun.

Baca Juga : Kerajaan Surabaya 1620: 30 Ribu Prajurit, Benteng Wali Songo dan Meriam Buatan Sendiri

Selain itu sejumlah massa aksi menyatakan mempertanyakan adanya gate parkir, apakah akan mengurangi jumlah jukir yang bisa bekerja di area tersebut. Mengingat, parkir yang terkategori tepi jalan umum di Alun-alun Kota Wisata Batu melibatkan banyak jukir.

"Tolak Gate, Menolak Gate Parkir," tulis massa dalam spanduk yang dibentangkan di depan Balai Kota Among Tani.

Aksi damai tersesat dimulai sejak sekitar pukul 09.00 WIB. Massa tiba dengan menyampaikan sejumlah tuntutan dan mempertanyakan kejelasan kebijakan yang akan diambil Pemkot Batu. Beberapa saat kemudian perwakilan massa aksi diminta masuk sebanyak 15 orang dari paguyuban-paguyuban yang tergabung.

Mereka diterima oleh Dinas Perhubungan (Dishub), Satpol-PP, juga Polres Batu. Sementara massa sempat menunggu cukup lama di area halaman balai kota. Hingga akhirnya sekitar satu jam kemudian perwakilan massa kembali untuk menyampaikan hasil audiensi.

Perwakilan Aksi Puspita Herdysari mengatakan, kebijakan pemasangan gate parkir alun-alun itu dinilai cukup mendadak. Meski terbilang wacana kebijakan lama, namun pihaknya merasa perlu sosialisasi lebih jelas dan menyeluruh kepada masyarakat pelaku parkir, PKL, permainan anak odong-odong maupun dokar.

"Sayangnya sosialisasi ini telat, sosialisasi dilakukan setelah kita datang ke sini. Karena ini program lama, yang harusnya ada sosialisasi lagi sebelumnya," ujarnya saat ditemui pasca aksi.

Para perwakilan paguyuban menyampaikan jika di saat audiensi belum ada titik temu, hingga sikap mereka tetap menolak gate parkir dengan berbagai alasan. Meski begitu, ia menyebut para pelaku jukir hingga PKL bakal terbuka jika dilakukan uji coba sebelumnya agar bisa mengetahui hasil penerapannya.

Baca Juga : Ibu Bunuh Bayi Kandungnya di Jombang Dituntut 12 Tahun Penjara

"Intinya apapun kami masih tetap satu suara menolak gate, tapi tidak menutup kemungkinan uji coba. Uji coba misal di saat weekand, apakah menambah keruwetan atau kenyamanan," ungkap Pipit, sapaannya.

Selain sosialisasi, alasan penolakan mereka karena beragam masalah yang dikhawatirkan. Seperti halnya jika penerapan itu dilakukan, mereka khawatir akses masuk akan terhambat karena lamanya pengunjung mengakses gate parkir.

"Apa yang terjadi nanti kalau sudah uji coba, satu orang mungkin 1 menit 25 detik. Saat ini saja ada tujuh arus (jalan area alun-alun), macet. Bagaimana kalau berapa arus ditutup. Belum tahu nanti seperti apa," ringkasnya.

Dikonfirmasi, Kepala Dinas Perhubungan Kota Batu Hendry Suseno menyampaikan jika pemasangan gate parkir ditujukan agar ada tata kelola parkir yang lebih baik. Termasuk memaksimalkan pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi parkir TJU.

"Seluruhnya sudah melalui kajian, gapura e-parking juga sudah ada sejak era wali kota Bu Dewanti. Yang mana dieksekusi sekarang, kita upayakan memaksimal. Ada kekhawatiran berlebih menurut saya. Nanti juga para jukir dilibatkan tetap menata parkir seperti biasa. Tidak ada yang dirugikan," jelas Hendry.