4 Tanda Hati Mulai Jauh dari Allah SWT, Salah Satunya Sering Mengulang Dosa

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

20 - Aug - 2026, 06:29

Ilustrasi menyesali dosa. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Hati memiliki posisi penting dalam kehidupan seorang Muslim. Ketika hati terjaga, perilaku seseorang juga akan ikut terarah. Sebaliknya, hati yang mulai lalai dapat membuat seseorang perlahan menjauh dari ketaatan tanpa disadari.

Rasulullah SAW menggambarkan pentingnya hati dalam sebuah hadis. Beliau bersabda bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika bagian tersebut baik, maka baik pula seluruh tubuh. Namun jika rusak, rusak pula seluruh tubuh. Bagian itu adalah hati.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 20 Agustus 2026, Aries hingga Virgo: Ada Kabar Baik Hari Ini

Karena itu, menjaga hati menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Lantas, apa saja tanda ketika hati mulai jauh dari Allah SWT?

1. Mulai Malas Beribadah

Salah satu tanda yang patut diwaspadai adalah munculnya rasa malas dalam menjalankan ibadah. Salat yang sebelumnya dilakukan dengan ringan mulai terasa berat, begitu pula dengan ibadah lainnya.

Al-Qur'an menggambarkan orang-orang yang malas ketika mendirikan salat dalam Surah An-Nisa ayat 142:

إِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah SWT, tetapi Allah SWT membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah SWT, kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa: 142)

Ayat tersebut menjadi peringatan agar seorang Muslim tidak membiarkan rasa malas dalam beribadah terus berkembang.

2. Dunia Menjadi Tujuan Utama

Tanda berikutnya adalah ketika urusan dunia mulai memenuhi pikiran hingga mengalahkan perhatian terhadap kehidupan akhirat.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akan mendapatkan ketenangan dan kecukupan dalam hatinya. Sebaliknya, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama akan terus merasa kekurangan.

Hal tersebut sebagaimana hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik:

"Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah menjadikan kekayaannya dalam hatinya, dan mengatur urusannya, dan dunia datang kepadanya meskipun ia tidak menginginkannya. Dan siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah menempatkan kemiskinannya di depan matanya, dan mengacaukan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya, kecuali apa yang telah ditentukan untuknya." (HR. Tirmidzi No. 2465)

3. Dosa Tak Lagi Membuat Hati Gelisah

Seorang Muslim tentu tidak luput dari kesalahan. Namun, dosa semestinya menimbulkan penyesalan dan membuat seseorang ingin memperbaiki diri.

Karena itu, perlu berhati-hati ketika seseorang mulai melakukan dosa tanpa merasa bersalah, bahkan tidak lagi merasa malu apabila perbuatannya diketahui orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:
"Kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang mengganggu dalam hatimu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya." (HR. Muslim No. 2553)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa hati yang masih peka terhadap dosa akan merasakan kegelisahan ketika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan.

Baca Juga : Polres Gresik Ringkus Residivis Pengedar Sabu, Modalnya dari Hasil Judi Online

4. Terus Mengulangi Dosa

Dosa yang dilakukan berulang kali juga patut menjadi bahan introspeksi. Terlebih jika seseorang sudah tidak memiliki keinginan untuk berhenti atau bertobat.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dosa dapat meninggalkan pengaruh pada hati. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan:

"Sesungguhnya, ketika seorang hamba (Allah) melakukan dosa, maka akan muncul titik hitam di hatinya. Ketika ia menahan diri, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan bersih kembali. Namun jika ia kembali, maka titik tersebut akan bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Dan itulah 'Ran' yang disebutkan Allah: 'Sekali-kali tidak, tetapi pada hati mereka ada Ran yang mereka peroleh." (HR. Tirmidzi No. 3334)

Hadis tersebut menggambarkan bagaimana dosa yang terus diulangi dapat membuat hati semakin tertutup.

Bahaya Hati yang Jauh dari Allah

Hati yang lalai dan tertutup dapat membuat seseorang semakin sulit menerima kebenaran. Dalam Surah Al-Isra ayat 46, Allah SWT berfirman:

وَّجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرًاۗ وَاِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِى الْقُرْاٰنِ وَحْدَهٗ وَلَّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ نُفُوْرًا

Artinya: "Kami jadikan di atas hati mereka penutup-penutup (sesuai dengan kehendak dan sikap mereka) sehingga mereka tidak memahaminya dan di telinga mereka ada penyumbat (sehingga tidak mendengarnya). Apabila engkau menyebut (nama) Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci)." (QS. Al-Isra': 46)

Mengutip tafsir Kementerian Agama (Kemenag) RI, ayat tersebut menjelaskan kondisi orang yang hatinya tertutup sehingga tidak mampu menerima kebenaran dan mengikutinya. Kondisi tersebut merupakan akibat dari perbuatan yang mereka lakukan sendiri.

Ada pula hadis yang mengingatkan umat Islam agar tidak lalai ketika berdoa kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:

"Berdoalah kepada Allah SWT dengan keyakinan akan dikabulkan, dan ketahuilah oleh kalian semua, sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai dan sibuk dengan permainan." (HR. Tirmidzi No. 3479)

Karena itu, tanda-tanda tersebut dapat menjadi bahan muhasabah, bukan untuk menghakimi diri sendiri ataupun orang lain. Ketika merasa ibadah mulai berat, dosa terasa biasa saja, atau urusan dunia terlalu mendominasi, seorang Muslim dianjurkan segera memperbaiki diri dengan memperbanyak istighfar, bertobat, menjaga salat, membaca Al-Qur'an dan kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga informasi ini bermanfaat.