Profil 8 Nama Calon Ketum PBNU Jelang Muktamar Ke-35, Siapa Paling Kuat?
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
10 - Aug - 2026, 02:34
JATIMTIMES - Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menjadi perhatian menjelang Muktamar Ke-35 NU. Sejumlah tokoh disebut-sebut masuk dalam pembicaraan sebagai kandidat yang berpeluang memimpin PBNU untuk periode mendatang.
Adapun Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.
Baca Juga : Rasulullah Batalkan Pernikahan Paksa, Bukti Perempuan Berhak Memilih Jodoh
Ketua Bidang Hukum dan Media PBNU Prof Moh Mukri menilai munculnya sejumlah nama dalam bursa calon ketua umum merupakan hal yang wajar. Menurutnya, dinamika tersebut justru menunjukkan adanya proses demokrasi dan aspirasi di lingkungan NU.
"Kalau kemudian agak-agak hangat, ada banyak yang ingin maju menjadi Ketua Umum, ya biasalah. Itu justru sekaligus penampakan adanya demokrasi, ada penyampaian aspirasi," kata Mukri, dikutip NU Online, Senin (10/8/2026).
Meski demikian, Mukri menyebut belum ada kandidat yang benar-benar dominan. Peta dukungan masih dinamis dan terbuka terhadap kemungkinan terjadinya koalisi.
Sesuai mekanisme organisasi, bakal calon Ketua Umum PBNU harus mengantongi sedikitnya 99 dukungan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan/atau Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) untuk dapat ditetapkan sebagai calon.
"Belum bisa diprediksi siapa kandidat yang memiliki peluang paling besar untuk memimpin PBNU," ujarnya.
"Kalau ternyata kurang dari situ kan enggak memenuhi untuk jadi calon. Nanti bisa saja semacam koalisi," imbuhnya.
Menurut dia, peta kekuatan baru akan terlihat ketika proses pencalonan berlangsung dalam Muktamar Ke-35 NU.
"Ya sekarang sih kalau ngomong mengerucut, belum ya. Tapi nanti ending-nya seperti apa, mengerucutnya nanti ketika muktamar," katanya.
Lantas, siapa saja nama yang disebut masuk dalam bursa calon Ketum PBNU?
1. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1966. Ia berasal dari keluarga besar ulama NU.
Gus Yahya merupakan putra KH Muhammad Cholil Bisri dan keponakan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Pendidikan agamanya ditempuh sejak kecil di lingkungan pesantren keluarga, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin.
Ia kemudian memperdalam ilmu agama di Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Di pendidikan formal, Gus Yahya menempuh studi Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM).
Di lingkungan NU, Gus Yahya pernah dipercaya menjadi Katib A'am PBNU pada 2015-2021. Ia kemudian terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada periode 2021-2026.
Gus Yahya juga pernah dipercaya dalam pemerintahan. Pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia menjadi Juru Bicara Presiden. Sementara pada 2018, Presiden Joko Widodo mengangkatnya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Di tingkat internasional, Gus Yahya aktif dalam berbagai forum yang membahas isu perdamaian, dialog antaragama dan moderasi beragama.
2. KH Zulfa Mustofa (Gus Zulfa)
KH Zulfa Mustofa merupakan Wakil Ketua Umum PBNU yang kemudian ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU melalui rapat pleno PBNU pada 9 Desember 2025.
Penetapan tersebut dilakukan setelah posisi Ketum PBNU mengalami pergantian. Gus Zulfa kemudian menjalankan tugas sebagai Pj Ketum hingga pelaksanaan Muktamar 2026.
"Oleh karena itu, beliau akan memimpin PBNU sebagai Penjabat Ketua Umum melaksanakan tugas-tugasnya sampai dengan Muktamar yang Insyaallah akan dilaksanakan di 2026," kata Rais Syuriah PBNU Mohammad Nuh pada Selasa (9/12/2025) lalu.
Gus Zulfa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ia merupakan keponakan Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin.
Sejak muda, Gus Zulfa aktif mengajar di berbagai majelis. Ia juga dikenal sebagai ulama yang menghasilkan sejumlah karya, antara lain Tuhfatul Qashi wa Dani, Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi Li al-Mutfaqqih Jahluhu, serta Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi'i.
Pada September 2024, UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Gus Zulfa. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya di bidang kebahasaan dan kesusastraan Arab.
3. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
Nama lain yang masuk dalam pembicaraan adalah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Ia merupakan Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum. Dari garis ibu, ia merupakan keturunan keluarga besar KH M Hasyim Asy'ari, pendiri NU.
Gus Kikin menempuh pendidikan formal di Jombang sebelum melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dan meraih gelar sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Terbuka.
Ia juga pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak, Jombang.
Gus Kikin dipercaya menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sejak 2020. Ia merupakan pengasuh Tebuireng ke-8.
Di NU, Gus Kikin pernah menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur pada 2008-2022. Ia kemudian dipercaya menduduki posisi Ketua PBNU Bidang Ekonomi sejak 2022.
Selain aktif di NU dan pesantren, Gus Kikin juga memiliki pengalaman di dunia usaha. Ia pernah berkarier di PT Djakarta Lloyd dan mendirikan BBS Group pada 1997.
4. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin merupakan Ketua PWNU Jawa Tengah. Ia adalah putra KH MA Sahal Mahfudh dan Nyai Hj Nafisah Sahal.
Gus Rozin tumbuh di lingkungan pesantren Kajen, Pati. Pendidikan dasarnya ditempuh di Perguruan Islam Mathali'ul Falah hingga jenjang madrasah aliyah.
Setelah itu, ia menimba ilmu di Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Kediri, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Jakarta. Ia juga meraih gelar Master of Education dari Monash University, Australia, dan menyelesaikan pendidikan doktoral di UIN Walisongo Semarang pada 2023.
Kiprahnya di NU dimulai sejak aktif di IPNU dan GP Ansor. Ia kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU, Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, hingga Ketua RMI PBNU.
Dalam kepengurusan PBNU masa khidmah 2022-2027, Gus Rozin tercatat sebagai Katib Syuriyah. Ia juga terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024-2029.
Di luar NU, Gus Rozin pernah menjadi Staf Khusus Presiden bidang Keagamaan Dalam Negeri, anggota Dewan Ketahanan Pangan Nasional, serta Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat.
Baca Juga : Bank Indonesia Buka Lowongan PCPM Angkatan 41, Ini Syarat Lengkapnya
Ia juga dikenal dalam gerakan pengembangan pesantren, termasuk promotor Gerakan Nasional Ayo Mondok dan terlibat dalam advokasi lahirnya Hari Santri serta UU Pesantren.
5. Prof KH Nasaruddin Umar
Nama Menteri Agama Nasaruddin Umar juga disebut dalam bursa calon Ketum PBNU.
Prof KH Nasaruddin Umar lahir di Ujung, Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1959. Ia dikenal sebagai ulama, akademisi, dan tokoh yang banyak menulis mengenai Islam dan isu kesetaraan gender.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Agama RI periode 2011-2014 serta Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian Agama.
Nasaruddin merupakan lulusan IAIN Alauddin Ujung Pandang dan melanjutkan pendidikan magister serta doktoral di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia juga pernah mengikuti program akademik di sejumlah perguruan tinggi luar negeri.
Pada 2002, ia dikukuhkan sebagai guru besar bidang Tafsir di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Di lingkungan NU, Nasaruddin tercatat sebagai salah satu Rais PBNU masa khidmah 2022-2027. Ia juga pernah memimpin sejumlah organisasi dan lembaga keagamaan.
Namanya semakin dikenal publik setelah terlibat dalam berbagai forum dialog lintas agama, termasuk Deklarasi Bersama Istiqlal 2024 bersama Paus Fransiskus saat kunjungan ke Indonesia. Hingga saat ini, Nasaruddin dinilai mendapatkan banyak dukungan untuk menjadi Ketum PBNU.
6. Gudfan Arif Ghofur (Gus Gudfan)
Gudfan Arif Ghofur atau Gus Gudfan merupakan salah satu tokoh yang disebut dalam bursa calon Ketum PBNU.
Ia merupakan putra KH Abdul Ghofur, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur.
Gus Gudfan tercatat sebagai salah satu bendahara PBNU masa khidmah 2022-2027. Ia kemudian dipercaya sebagai Plt Bendahara Umum PBNU menggantikan Mardani H Maming.
Sebelum berada di PBNU, Gus Gudfan aktif di sejumlah struktur NU. Ia pernah menjadi Bendahara PP Pagar Nusa, Bendahara RMI PWNU Jawa Timur, hingga Penasihat RMI PWNU Jawa Timur dan Penasihat PW GP Ansor.
Di luar organisasi, Gus Gudfan dikenal sebagai pengusaha. Ia mulai mengembangkan bisnis sejak 2003 dan memiliki usaha di sejumlah sektor, antara lain minyak dan gas, petrokimia, teknologi informasi dan pertambangan batu bara.
7. KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf merupakan Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo, Magelang.
Gus Yusuf lahir di Magelang pada 9 Juli 1973. Ia berasal dari keluarga pesantren dan merupakan putra KH Chudlori, pendiri Pesantren API Tegalrejo.
Setelah ayahnya wafat, Gus Yusuf diasuh oleh kakaknya, KH Abdurrahman Chudlori atau Mbah Dur. Ia kemudian memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, serta sejumlah pesantren lainnya.
Gus Yusuf juga memiliki pengalaman di bidang politik. Pada 1999-2007 ia memimpin DPC PKB Kabupaten Magelang. Ia kemudian dipercaya menjadi Pj Ketua DPW PKB Jawa Tengah dan kembali menjadi Ketua DPW PKB Jawa Tengah pada 2013.
Selain dakwah dan pendidikan, Gus Yusuf aktif dalam pengembangan seni dan budaya. Ia menggagas kegiatan Suran Tegalrejo serta terlibat dalam Komunitas Lima Gunung.
Kedekatannya dengan basis pesantren dan warga NU menjadi salah satu modal yang membuat namanya diperbincangkan dalam bursa calon Ketum PBNU.
8. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam juga masuk dalam nama yang diperbincangkan menjelang Muktamar Ke-35 NU.
Gus Salam mulai berkiprah di struktur NU pada 2002 sebagai pengurus Lembaga Bahtsul Masail NU Kota Kediri. Pada 2009, ia masuk jajaran LBMNU Jombang dan kemudian menjadi Pengurus Syuriyah PCNU Jombang pada 2012.
Pada periode kedua kepemimpinan KH Said Aqil Siroj, Gus Salam dipercaya menjadi Katib PBNU pada 2015. Ia kemudian menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur pada 2018.
Dalam perjalanannya di NU, Gus Salam menyebut keterlibatannya di PBNU maupun PWNU Jawa Timur tidak lepas dari pesan para masyayikh.
Namun, kiprah Gus Salam di struktur PWNU Jatim juga pernah diwarnai persoalan internal. PBNU pada 2023 dikabarkan memberhentikannya dari jabatan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.
Keputusan tersebut tertuang dalam surat PBNU Nomor 831/PB.03/A.I.03.44/99/08/23. Dalam surat itu disebutkan pemberhentian berkaitan dengan dugaan perbuatan melawan hukum dan persoalan gugatan terkait penunjukan Ketua dan struktur kepengurusan PCNU Jombang.
PBNU menyatakan keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil rapat harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU.
"Bahwa di antara para penggugat terdapat pejabat Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur atas nama Abd Salam (atau KH Abdus Salam Shohib) dan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Mojoagung atas nama Sugianto," bunyi surat tersebut.
PBNU kemudian menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap Pasal 71 Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama dan Pasal 6 Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13 Tahun 2022.
"Salah satu keputusan Rapat Harian Syuriah dan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama adalah memberhentikan pejabat pengurus dimaksud (Gus Salam dan Sugianto) sesuai peraturan yang berlaku pada perkumpulan Nahdlatul Ulama," tulis surat tersebut.
Demikian 8 nama calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang diklaim sebagai kandidat terkuat. Peta dukungan masih sangat mungkin berubah karena proses pencalonan resmi baru akan berlangsung dalam Muktamar Ke-35 NU.
Jumlah dukungan dari PCNU dan PWNU akan menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan siapa yang akhirnya masuk sebagai calon resmi. Karena itu, delapan nama tersebut lebih tepat disebut sebagai tokoh yang saat ini muncul dalam pembicaraan bursa calon, bukan daftar calon resmi Ketum PBNU.
Sebagai informasi, Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026 nantinya akan menjadi forum yang menentukan arah kepemimpinan PBNU berikutnya.
