Dianggap Hama, Ikan Sapu-Sapu Ternyata Punya Protein Tinggi yang Bisa Jadi Pupuk Cair Organik
Reporter
Irsya Richa
Editor
Yunan Helmy
12 - May - 2026, 03:28
JATIMTIMES - Ikan sapu-sapu yang selama ini kerap dianggap hama perairan dan tak bernilai ekonomis ternyata menyimpan potensi baru. Di tangan komunikator sains Andrea Novita, ikan invasif tersebut berhasil diolah menjadi pupuk organik cair yang kaya nutrisi untuk tanaman.
Eksperimen itu dibagikan Andrea dengan memperlihatkan proses pengolahan ikan sapu-sapu mulai dari ekstraksi protein hingga fermentasi menjadi pupuk cair. Andrea menjelaskan pemanfaatan ini bisa menjadi solusi untuk mengurangi populasi ikan sapu-sapu sekaligus memberi nilai tambah bagi sektor pertanian.
Baca Juga : Company Visit di Bea Cukai Malang, Mahasiswa Doktor FEB UM Soroti Hambatan UMKM Tembus Pasar Ekspor
“Ikan sapu-sapu selama ini sering dianggap tidak berguna dan akhirnya hanya dikubur atau dibuang. Padahal setelah diuji di laboratorium, kandungan proteinnya ternyata cukup tinggi dan bisa dimanfaatkan,” kata Andrea.
Dalam prosesnya, Andrea melakukan pengolahan di laboratorium teknologi pangan. Daging, tulang, dan kulit ikan sapu-sapu terlebih dahulu dihancurkan menjadi adonan, lalu dicampur air dan diatur tingkat keasamannya hingga mencapai pH sekitar 6,5. Kemudian, campuran diberi enzim bromelin untuk memecah protein menjadi ukuran lebih kecil.
“Tujuan penambahan enzim bromelin adalah memecah protein ikan menjadi bentuk yang lebih sederhana, seperti peptida dan asam amino. Senyawa inilah yang nantinya bermanfaat untuk kesuburan tanaman,” jelas Andrea.
Setelah proses hidrolisis selama sekitar empat jam, larutan kemudian disentrifugasi untuk memisahkan ampas dan mengambil bagian cair. Cairan tersebut berisi hasil hidrolisat protein yang kaya unsur nitrogen, lalu digunakan sebagai bahan utama pupuk organik cair.
Andrea menambahkan, larutan protein itu dicampur dengan gula molase sebagai sumber karbon dan EM4 yang mengandung kultur bakteri serta ragi untuk membantu fermentasi. Lalu campuran didiamkan selama satu pekan hingga menghasilkan pupuk siap pakai.
“Kalau fermentasinya berhasil, biasanya pH turun jadi sekitar 3 sampai 4, aromanya asam seperti kombucha, dan muncul gelembung. Itu tanda mikroorganisme bekerja dengan baik,” imbuh Andrea.
Baca Juga : Masih Ada Tiga Desa Tanpa TPS3R di Kota Batu
Hasil akhir menunjukkan cairan pupuk organik berwarna lebih jernih dengan endapan di bagian bawah yang merupakan sisa mikroba mati. Menurut Andrea, pupuk tersebut selanjutnya akan diuji coba langsung pada tanaman seperti kangkung dan cabai untuk melihat efektivitasnya terhadap pertumbuhan.
Dia mengatakan, pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi pupuk organik dinilai sebagai inovasi yang menarik karena mengubah spesies invasif menjadi produk bermanfaat. Di sejumlah wilayah Indonesia, ikan sapu-sapu dikenal merusak ekosistem sungai dan mengganggu populasi ikan lokal karena berkembang biak sangat cepat.
“Kalau bisa dimanfaatkan seperti ini, kita bukan hanya mengurangi masalah lingkungan, tapi juga menciptakan produk yang berguna untuk pertanian. Jadi ada nilai ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah,” tutup Andrea.
