Banjir Masih Ada Tapi Cepat Surut, Strategi DPUPRPKP Kota Malang Mulai Tunjukkan Hasil
Reporter
Hendra Saputra
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
08 - Apr - 2026, 08:40
JATIMTIMES - Upaya penanganan banjir di Kota Malang pada 2026 mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) terus memperkuat langkah strategis, terutama melalui normalisasi saluran dan peningkatan sistem drainase di sejumlah titik rawan genangan.
Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, menegaskan bahwa penanganan banjir dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan dengan mengacu pada masterplan drainase yang telah disusun. Fokus utama tahun ini mencakup pengerukan sedimen, peningkatan kapasitas saluran, serta pemeliharaan rutin infrastruktur pengendali banjir.
Baca Juga : Semeru Kembali Luncurkan Awan Panas Sore Ini
“Penanganan pertama kita lakukan normalisasi, yaitu pengerukan sedimen. Kedua peningkatan saluran yang ada, kemudian pemeliharaan secara rutin,” jelas Dandung.
Menurutnya, penerapan masterplan drainase mulai membuahkan hasil positif. Meski genangan masih terjadi saat hujan deras, dampaknya kini jauh lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau saya katakan penerapan masterplan drainase ini efektif. Memang masih ada titik banjir, tapi ketinggian air sudah berkurang dan durasi surutnya jauh lebih cepat,” ujarnya.
Perubahan paling terasa terlihat dari durasi surut air. Jika sebelumnya genangan bisa bertahan hingga dua sampai tiga jam, kini air dapat surut dalam waktu relatif singkat setelah hujan berhenti.
“Sekarang setelah hujan reda sekitar 20 sampai 30 menit sudah surut. Dulu bisa sampai dua jam bahkan tiga jam,” tambahnya.
Selain penguatan sistem drainase, DPUPRPKP juga rutin melakukan normalisasi sedimen di berbagai titik yang mengalami pendangkalan maupun penumpukan sampah. Kegiatan ini bahkan dilakukan hampir setiap hari sebagai bagian dari perawatan berkelanjutan.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah wilayah Langsep, yang memerlukan pembersihan berkala setidaknya setiap dua minggu sekali untuk menjaga kelancaran aliran air.
Baca Juga : Nyalakan Spirit Kartini Tak Hanya Seremoni, Rektor UIN Malang Ajak Perempuan Bergerak dan Berkolaborasi
“Tidak bisa dihitung per titik karena satu lokasi bisa kita normalisasi berkali-kali dalam setahun, bisa enam sampai delapan kali tergantung kondisinya,” tuturnya.
Untuk memperkuat upaya tersebut, DPUPRPKP juga menggagas program kolaboratif bertajuk Jumat Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen atau GASS. Program ini melibatkan satuan tugas DPUPRPKP bersama perangkat daerah lain hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
“Satgas DPU setiap hari melakukan normalisasi, dan setiap Jumat kita kolaborasi melalui Gerakan Jumat GASS,” imbuh Dandung.
Dengan langkah terstruktur dan berkelanjutan, Pemkot Malang optimistis penanganan banjir akan semakin optimal, sekaligus meminimalkan dampak genangan di masa mendatang.
