Ramadan dan Janji Penaklukan Konstantinopel, ketika Sejarah Membenarkan Sabda Nabi

Editor

Yunan Helmy

28 - Feb - 2026, 09:36

Ilustrasi jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani pada abad ke-15. (ist)

JATIMTIMES - Ramadan bukan sekadar bulan ibadah personal. Dalam lintasan sejarah Islam, bulan suci ini kerap menjadi panggung peristiwa besar yang mengubah arah peradaban. Salah satu momen monumental itu adalah jatuhnya Konstantinopel (Istanbul sekarang) ke tangan Turki Usmani pada abad ke-15, sebuah kemenangan yang diyakini telah dikabarkan jauh hari oleh Rasulullah SAW.

Upaya menaklukkan kota legendaris itu sejatinya bukan perkara singkat. Pada Ramadan 825 Hijriah, Sultan Murad II sempat mengepung Konstantinopel. Namun, perlawanan sengit dari Bizantium membuat upaya tersebut belum membuahkan hasil. Kota yang selama berabad-abad menjadi benteng Kekaisaran Romawi Timur itu masih berdiri kokoh.

Baca Juga : Kebiasaan saat Puasa yang Bisa Merusak Ginjal, Ini Peringatan Dokter

Baru pada 6 April 1453, di bawah komando Mehmed II yang juga dikenal sebagai Muhammad al-Fatih, pengepungan besar-besaran dimulai. Setelah 53 hari pertempuran, pada 29 Mei 1453, pasukan Turki Usmani berhasil menembus pertahanan kota. Runtuhnya Konstantinopel sekaligus menandai berakhirnya kekuasaan Romawi Timur yang telah bertahan sekitar 1.500 tahun.

Peristiwa ini bukan hanya kemenangan militer. Ia dipandang sebagai realisasi sabda Nabi Muhammad SAW. Hadis riwayat Ahmad, Abdullah bin Amr bin Al-Ash menuturkan bahwa Rasulullah pernah ditanya kota mana yang lebih dulu dibebaskan, Konstantinopel atau Roma. Beliau menjawab, “Kota Heraclius akan dibebaskan terlebih dahulu.” Yang dimaksud  Rasulullah adalah Konstantinopel.

Dalam riwayat lain disebutkan, “Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir adalah amir yang memimpin penaklukkannya dan tentara terbaik adalah tentara yang menaklukkannya.” Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Ahmad dan Al-Hakim.

Kemenangan tersebut mengakhiri penantian panjang yang telah dirintis sejak abad ke-7 Masehi. Sejak saat itu, Konstantinopel memasuki babak baru dan kelak dikenal sebagai Istanbul. Kota tersebut berkembang menjadi pusat pemerintahan dan peradaban Turki Usmani.

Menariknya, setelah penguasaan kota, pemerintahan Usmani tidak melakukan pengusiran massal terhadap penduduk. Umat Kristen tetap diberi ruang hidup dan bahkan diajak bekerja sama membangun kembali perekonomian. Pendekatan ini memperlihatkan dimensi politik dan sosial yang melampaui sekadar ekspansi teritorial.

Ramadan sebagai momentum sejarah semestinya mengingatkan umat Islam agar tidak menjalani bulan suci secara biasa-biasa saja. Ia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang peningkatan kualitas diri dan spiritualitas.

Rasulullah SAW mengingatkan, “Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga.” Hadis riwayat at-Thabrani ini menjadi peringatan agar ibadah tidak berhenti pada aspek fisik semata.

Baca Juga : Komplotan Curanmor Asal Lampung Timur Diringkus Polisi Usai Beraksi di Malang Saat Ramadan

Di sisi lain, godaan konsumerisme kerap menguat menjelang Idul Fitri. Aktivitas belanja bukanlah hal terlarang, namun semangat ibadah, terutama pada 10 hari terakhir Ramadhan, tidak sepatutnya tergerus. Teladan Nabi menunjukkan bahwa pada fase akhir Ramadan, beliau justru meningkatkan intensitas ibadah dan melaksanakan iktikaf.

Ada pula hadis riwayat Ahmad yang menceritakan ketika Rasulullah SAW mengucapkan amin di tiga anak tangga mimbar. Salah satu doa yang diaminkan beliau adalah peringatan bagi orang yang melewati Ramadhan tanpa memperoleh ampunan Allah.

Sejarah penaklukan Konstantinopel dan pesan-pesan Nabi itu menyatu dalam satu pelajaran: Ramadan adalah bulan peluang. Peluang memperbaiki diri, memperkuat iman, dan mencatatkan karya besar. Pertanyaannya, apakah Ramadan tahun ini akan berlalu begitu saja, atau menjadi titik perubahan yang sungguh bermakna.