Sebanyak 105 Ribu Kendaraan Impor India untuk Koperasi Desa Merah Putih Tiba di RI, Ini Spesifikasi dan Polemiknya
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
27 - Feb - 2026, 08:14
JATIMTIMES - Sebanyak 105.000 kendaraan niaga dari India didatangkan ke Indonesia untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih. Armada tersebut terdiri dari pickup dan truk ringan yang dirancang untuk distribusi logistik di wilayah pedesaan.
Dua produsen otomotif yang terlibat dalam pengadaan ini adalah Mahindra dan Tata Motors. Berikut spesifikasi utama kendaraan yang diimpor sekaligus alasan di balik polemik yang muncul.
Spesifikasi Kendaraan yang Didatangkan
1. Mahindra Scorpio Pickup
Baca Juga : Layani 2.678 Siswa, SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 Terus Evaluasi Menu MBG
Sebanyak 35.000 unit Scorpio Pickup dipasok untuk kebutuhan operasional koperasi.
Spesifikasi umum:
• Mesin diesel 2.2 liter mHawk
• Tenaga sekitar 120–140 HP
• Torsi maksimal hingga ±320 Nm
• Pilihan penggerak 4x2 dan 4x4
• Transmisi manual 6 percepatan
• Kapasitas angkut di atas 1 ton
• Ground clearance tinggi
Pickup ini menggunakan sasis ladder frame yang kokoh dan dirancang untuk membawa beban berat di medan yang tidak selalu rata.
2. Tata Yodha Pickup
Sebanyak 35.000 unit Yodha Pickup juga didatangkan untuk mendukung distribusi desa.
Spesifikasi umum:
• Mesin diesel 2.2 liter
• Tenaga sekitar 100 HP
• Torsi sekitar 250 Nm
• Transmisi manual 5 percepatan
• Kapasitas angkut hingga 1,5 ton
• Rangka diperkuat untuk kebutuhan komersial
Model ini dikenal fokus pada efisiensi bahan bakar dan daya tahan untuk operasional harian.
3. Tata Ultra T.7
Sebanyak 35.000 unit Ultra T.7 masuk kategori truk ringan untuk kebutuhan angkut volume besar.
Spesifikasi umum:
• Mesin diesel 3.0 liter
• Tenaga sekitar 140 HP
• Torsi sekitar 390 Nm
• Transmisi manual 5–6 percepatan
• Kapasitas angkut sekitar 4 ton
• Sistem pengereman udara (air brake)
Truk ini diproyeksikan untuk distribusi antarwilayah desa dengan kapasitas muatan lebih besar.
Meski secara spesifikasi kendaraan tersebut dinilai tangguh untuk kebutuhan distribusi desa, pengadaan pickup dan truk impor ini memicu sejumlah polemik di masyarakat dan kalangan industri otomotif nasional. Beberapa alasan yang menjadi sorotan antara lain:
Nilai kontrak yang besar
Baca Juga : Potensi Parkir Berlangganan Menggiurkan, DPRD Kota Malang: Benahi Dulu Skema Lama
Total pengadaan mencapai 105.000 unit dengan nilai sekitar Rp24,66 triliun. Angka ini dinilai sangat besar sehingga memunculkan pertanyaan soal transparansi, skema pembiayaan, dan urgensi pengadaan dalam jumlah masif sekaligus.
Impor dalam jumlah besar
Kebijakan mengimpor kendaraan niaga dari luar negeri menuai kritik karena dinilai belum sepenuhnya memberdayakan produsen otomotif dalam negeri. Sejumlah pihak menilai, kebutuhan armada koperasi seharusnya bisa melibatkan industri lokal untuk mendorong pertumbuhan manufaktur nasional.
Kesesuaian dengan kebutuhan desa
Ada pula yang mempertanyakan apakah spesifikasi kendaraan termasuk kapasitas mesin dan fitur benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional koperasi desa, terutama terkait efisiensi biaya perawatan dan ketersediaan suku cadang.
Distribusi dan kesiapan operasional
Kendaraan yang untuk sementara ditempatkan di Kodim juga memicu diskusi publik mengenai mekanisme distribusi, pengelolaan, serta kesiapan koperasi penerima agar armada tidak mangkrak.
Di sisi lain, pemerintah dan pihak pengadaan menilai kendaraan tersebut dipilih karena memiliki spesifikasi teknis yang sesuai untuk medan pedesaan torsi besar, sasis kuat, serta daya angkut memadai.
Respons Industri Otomotif Nasional
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan industri otomotif dalam negeri memiliki kemampuan dan kapasitas produksi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersial ringan.
Ketua Harian Gaikindo, Anton Kumonty, menyebutkan bahwa pelaku industri telah melakukan berbagai kajian dalam pengembangan platform kendaraan niaga yang sesuai dengan karakteristik usaha di Indonesia.
"Kami dari industri otomotif Indonesia telah menjalankan berbagai studi untuk menyesuaikan perkembangan platform kendaraan komersial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kegiatan usaha di dalam negeri, sehingga kami memiliki pengetahuan untuk membuat jenis kendaraan yang sesuai,” ujar dia dalam keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, kapasitas produksi anggota Gaikindo secara total mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun. Produksi kendaraan niaga ringan di Indonesia melibatkan sejumlah perusahaan, antara lain:
• PT Suzuki Indomobil Motor
• PT Isuzu Astra Motor Indonesia
• PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors
• PT SGMW Motor Indonesia
• PT Sokonindo Automobile
• PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
• PT Astra Daihatsu Motor
Menurut asosiasi, optimalisasi produksi dalam negeri dapat memberikan efek berganda terhadap ekosistem industri karena satu unit kendaraan terdiri atas lebih dari 20.000 komponen yang melibatkan ribuan pemasok, termasuk industri kecil dan menengah, serta menyerap jutaan tenaga kerja di sepanjang rantai pasok bersama Gabungan Industri Alat-Alat Mobil & Motor (GIAMM).
Secara teknis, kendaraan-kendaraan tersebut dinilai memiliki torsi besar, sasis kuat, dan kapasitas angkut memadai untuk menunjang distribusi di wilayah pedesaan. Namun, proyek berskala besar ini tetap membutuhkan pengawasan dan transparansi yang ketat.
Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada spesifikasi kendaraan, tetapi juga pada tata kelola distribusi, kesiapan sumber daya manusia, serta keberlanjutan operasional di tingkat desa. Evaluasi berkelanjutan dinilai penting agar manfaat pengadaan benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.
