Jatim Kunci Swasembada Gula Nasional, Komisi B Soroti Impor dan Rendemen
Reporter
Muhammad Choirul Anwar
Editor
Nurlayla Ratri
20 - Feb - 2026, 07:28
JATIMTIMES – Jawa Timur (Jatim) dinilai menjadi kunci pencapaian target swasembada gula nasional pada 2026. Sebagai salah satu sentra produksi tebu terbesar di Indonesia, arah kebijakan di provinsi ini disebut akan sangat menentukan berhasil atau tidaknya ambisi pemerintah menghentikan ketergantungan impor gula.
Anggota Komisi B DPRD Jatim Khusnul Khuluk menyatakan, target swasembada masih realistis, namun mensyaratkan konsistensi kebijakan dari pemerintah pusat, terutama dalam pengendalian impor.
Baca Juga : Perut Begah Bikin Tarawih Mager? Ini Cara Ampuh Atasi Kekenyangan Saat Buka Puasa!
“Swasembada gula 2026 bisa tercapai dengan catatan. Pertama, pemerintah pusat harus serius tidak melakukan impor gula secara berlebihan. Kalau impor terus dibuka, tentu petani kita sulit berkembang,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Menurut Khusnul, kebijakan impor yang longgar berpotensi menekan harga gula domestik dan melemahkan insentif petani untuk meningkatkan produksi. Tanpa keberpihakan yang jelas pada gula dalam negeri, upaya peningkatan produktivitas di tingkat petani akan sulit berkelanjutan.
Selain kebijakan impor, pengawalan lahan tebu menjadi faktor krusial. Sejumlah daerah di Jatim seperti Blitar dan kawasan tapal kuda, memiliki produktivitas tebu yang cukup tinggi. Namun potensi tersebut dinilai rentan tergerus alih fungsi lahan jika tidak ada perlindungan yang konsisten.
Khusnul juga menyoroti potensi 'rebutan lahan' antara komoditas padi dan tebu, yang sama-sama menjadi prioritas nasional. Tanpa perencanaan yang matang, dua komoditas strategis itu bisa saling berbenturan di tingkat implementasi.
Di sisi hulu, persoalan rendemen atau kadar gula dalam tebu disebut menjadi faktor penentu minat petani. Rendemen rendah akan membuat budidaya tebu tidak menarik secara ekonomi.
“Mustahil petani mau tanam tebu kalau rendemennya jelek. Kalau tidak menguntungkan, mereka pasti beralih ke tanaman lain,” urainya.
Karena itu, ia mendorong penguatan inovasi bibit serta peningkatan kemitraan antara petani dan pabrik gula. Sinergi dengan BUMN gula seperti PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dinilai penting untuk menjaga kualitas tebu rakyat sekaligus memastikan hasil panen terserap optimal dengan harga yang menguntungkan.
Baca Juga : Buah atau Kurma, Mana yang Lebih Aman untuk Lambung Saat Berbuka Puasa?
Selain peningkatan kualitas, dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) juga perlu diperkuat.“Penambahan alat-alat pertanian yang berkaitan dengan gula ini perlu disupport oleh pemerintah pusat agar produktivitas meningkat,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Khusnul menyebut ada perkembangan positif. Pupuk subsidi jenis ZA yang sebelumnya belum sepenuhnya tersedia bagi petani tebu kini mulai dapat diakses kembali.
“Alhamdulillah, pupuk subsidi terutama ZA tahun ini sudah mulai bisa diterima petani tebu. Ini sangat membantu menekan biaya produksi,” ungkapnya.
Dengan pengendalian impor yang konsisten, perlindungan lahan tebu, peningkatan kualitas bibit dan rendemen, serta dukungan subsidi dan alsintan, Khusnul optimistis Jawa Timur mampu menjadi tulang punggung swasembada gula nasional pada 2026.
Namun ia mengingatkan, tanpa ketegasan kebijakan dari pemerintah pusat, potensi besar yang dimiliki Jatim bisa sulit dikonversi menjadi capaian swasembada yang nyata.
