Ratu Kalinyamat: Antara Dendam, Politik, dan Perjuangan Melawan Portugis

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy

02 - Mar - 2025, 09:29

Ilustrasi Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara abad ke-16 yang dikenal sebagai pemimpin perempuan tangguh dan pelopor perlawanan terhadap Portugis. (Foto: Dibuat dengan AI/Jatim TIMES)

JATIMTIMES - Pada abad ke-16, Jepara bukan sekadar pelabuhan dagang yang ramai, tetapi juga pusat kekuatan maritim yang mampu menyaingi hegemoni kolonial Portugis di perairan Nusantara. 

Di balik kejayaannya, terdapat seorang pemimpin perempuan yang namanya diabadikan dalam berbagai sumber sejarah, baik dari naskah Jawa seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha maupun dalam catatan bangsa Portugis. Ia adalah Ratu Kalinyamat, seorang pemimpin yang digambarkan sebagai wanita yang kaya raya (senhora poderosa e rica), tetapi juga penuh dendam terhadap penguasa Jipang yang telah membunuh suaminya.

Baca Juga : Rekomendasi Film Religi di Netflix, Bisa Jadi Teman Puasa

Jepara, dengan lokasinya yang strategis di pantai utara Jawa, telah lama menjadi pusat perdagangan dan politik sejak masa Majapahit. Dalam era Demak, Jepara berkembang sebagai basis kekuatan Islam yang memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Demak, Mataram, dan Pajang. Namun, kemunculan Portugis di Malaka pada awal abad ke-16 mengancam keseimbangan kekuasaan di Nusantara. 

Ratu Kalinyamat, yang memerintah Jepara setelah kematian suaminya, menjadi tokoh penting dalam upaya mengusir Portugis dari kawasan tersebut.

Nasab Ratu Kalinyamat dalam Historiografi Jawa

Silsilah Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara abad ke-16 yang dikenal sebagai pemimpin perempuan tangguh dan pejuang antikolonialisme, hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Berbagai sumber historiografi Jawa memberikan versi yang berbeda terkait nasabnya, mencerminkan dinamika tradisi lisan dan penulisan sejarah di Nusantara.

Berdasarkan laporan hasil penelitian Ratu Kalinyamat: Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549-1579 oleh Yayasan Dharma Bhakti Lestari, terdapat empat versi utama mengenai asal-usul dan hubungan keluarga Ratu Kalinyamat. Masing-masing tercatat dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa, Babad Tanah Jawi, Babad Demak, serta bagan silsilah di Makam Mantingan, Jepara.

Versi pertama ditemukan dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa, sebuah teks yang mengisahkan tokoh-tokoh sejarah dalam bentuk tembang atau cerita pewayangan. Dalam naskah ini, Ratu Kalinyamat disebut sebagai Retna Kencana, salah satu dari beberapa anak Sultan Trenggana, raja ketiga Kesultanan Demak. Ia memiliki saudara-saudara lain, yaitu Retna Kenya yang menikah dengan Kiai Langgar, Retna Mirah yang menjadi istri Pangeran Riye, serta Pangeran Prawoto yang merupakan pewaris takhta Demak. 

Nama Ratu Kalinyamat sendiri dalam versi ini lebih menonjol sebagai bagian dari keluarga bangsawan Demak, tetapi keterkaitannya dengan Jepara tidak banyak dibahas secara rinci.

Versi kedua berasal dari Babad Tanah Jawi, naskah yang populer dalam historiografi Jawa dan kerap menjadi rujukan utama dalam rekonstruksi sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Menurut Babad Tanah Jawi, anak-anak Sultan Trenggana terdiri atas seorang putri yang menikah dengan Pangeran Sampang, Pangeran Prawata, seorang putri yang menjadi istri Pangeran Hadiri, putri yang menikah dengan Pangeran Cirebon, seorang putri yang diperistri Jaka Tingkir, serta Pangeran Timur. Dalam versi ini, meskipun nama Ratu Kalinyamat tidak disebutkan secara eksplisit, ada penyebutan seorang putri yang menikah dengan Pangeran Hadiri, yang diyakini merujuk pada Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat dan penguasa Kalinyamat.

Versi ini juga menempatkan Ratu Kalinyamat dalam jaringan pernikahan politik yang luas, menghubungkannya dengan penguasa-penguasa penting seperti Pangeran Cirebon dan Jaka Tingkir (Hadiwijaya).

Versi ketiga terdapat dalam Babad Demak, yang lebih menyoroti aspek keagamaan dan peran Wali Songo dalam sejarah Kesultanan Demak. Dalam naskah ini, Sultan Trenggana memiliki anak-anak, yakni Pangeran Mukmin atau Sunan Prawata, seorang putri yang menikah dengan Pangeran Langgar dari Madura, seorang putri yang diperistri oleh Pangeran Hadirin, seorang putri yang menikah dengan Panembahan Pasarean putra Fatahillah, serta seorang putra yang bergelar Pangeran Timur dan kelak menjadi bupati Madiun. 

Keunikan versi ini terletak pada penyebutan Pangeran Mukmin sebagai wali yang diangkat oleh Sunan Giri, menunjukkan pengaruh kuat spiritualitas Islam dalam legitimasi kekuasaan Kesultanan Demak.

Versi keempat dan terakhir bersumber dari bagan silsilah di Makam Mantingan, Jepara, yang dianggap sebagai catatan yang lebih dekat dengan tradisi lokal Jepara. Dalam versi ini, anak-anak Sultan Trenggana terdiri dari Pangeran Mukmin atau Pangeran Prawata, putri I yang menikah dengan Pangeran Langgar, putri II yang disebut sebagai Ratu Kalinyamat dan menikah dengan Pangeran Hadirin, putri III yang menjadi istri Pangeran Pasarean, putri IV yang menikah dengan Joko Tingkir, serta putri V yang diperistri Pangeran Timur atau adipati Madiun.

 Bagan ini lebih sistematis dalam menyebutkan anak-anak Sultan Trenggana, sekaligus mempertegas status Ratu Kalinyamat sebagai putri langsung dari raja Demak dan penguasa Jepara yang sah.

Dari keempat versi di atas, terdapat perbedaan mencolok dalam penyebutan nama dan susunan anak-anak Sultan Trenggana. Serat Kandhaning Ringgit Purwa lebih menampilkan narasi yang bercampur dengan unsur pewayangan. Sementara Babad Tanah Jawi memasukkan lebih banyak aspek politik dalam jaringan pernikahan. Babad Demak menekankan unsur keagamaan dan peran Sunan Prawata. Sedangkan bagan silsilah di Makam Mantingan tampak lebih konkret dalam menyebutkan keterkaitan Ratu Kalinyamat dengan Jepara.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa historiografi Jawa tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh kepentingan penyusun naskah, baik dalam konteks politik, keagamaan, maupun lokalitas wilayah tertentu.

Meski demikian, semua versi sepakat bahwa Ratu Kalinyamat adalah seorang putri dari Kesultanan Demak yang menikah dengan Pangeran Hadirin atau Sultan Hadlirin, penguasa Kalinyamat. Setelah kematian suaminya akibat konspirasi politik Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat tampil sebagai pemimpin Jepara yang berani, bahkan mengirimkan ekspedisi militer besar ke Malaka untuk menantang dominasi Portugis. 

Terlepas dari perbedaan dalam pencatatan nasabnya, jejak perjuangan Ratu Kalinyamat tetap menjadi warisan penting dalam sejarah Indonesia, terutama dalam konteks perlawanan terhadap kolonialisme.

Tragedi Prawata dan Sumpah Dendam

Ratu Kalinyamat, yang dalam sumber Portugis disebut "Rainha de Japara", memiliki nama asli Retna Kencana. Ia adalah putri Sultan Trenggana dari Demak dan istri dari Sultan Hadlirin. Tragedi besar menimpa kehidupannya ketika suaminya dibunuh atas perintah Pangeran Arya Panangsang, penguasa Jipang yang juga menjadi dalang dalam pembunuhan Sunan Prawata, kakak kandung Ratu Kalinyamat.

Menurut Babad Tanah Jawi, setelah pembunuhan tersebut, Ratu Kalinyamat bersumpah untuk bertapa di Gunung Danareja, berjanji tidak akan berbusana layaknya seorang ratu sebelum dendamnya terbalaskan. Ia kemudian mencari sekutu untuk menggulingkan Arya Panangsang, yang kala itu menjadi ancaman besar bagi kestabilan politik Jawa. Sumpah ini menggambarkan karakter kuat Ratu Kalinyamat sebagai seorang pemimpin perempuan yang tidak hanya memiliki kekuatan ekonomi, tetapi juga keberanian politik.

Jepara dan Pajang: Aliansi Politik yang Mengubah Sejarah

Baca Juga : Ketua DPRD Banyuwangi Harapkan Warga Jaga Kondusifitas Wilayah di Bulan Suci Ramadan

Dalam upaya menyingkirkan Arya Panangsang, Ratu Kalinyamat menjalin aliansi dengan Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Ia menawarkan hadiah besar berupa harta kekayaan dan wilayah kekuasaannya, termasuk Jepara dan Prawata, kepada Pajang jika berhasil menumbangkan penguasa Jipang tersebut.

Menurut catatan Serat Kandha, Sultan Hadiwijaya pada awalnya enggan berperang dengan Arya Panangsang. Tetapi berkat bujukan Ki Ageng Pamanahan, ia menerima tantangan tersebut. Akhirnya, pasukan Pajang yang dipimpin oleh Danang Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan, berhasil mengalahkan Arya Panangsang. Kematian penguasa Jipang ini menandai berakhirnya konflik politik yang telah mengguncang Jawa selama bertahun-tahun.

Setelah kejatuhan Jipang, Jepara tetap berada di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat. Namun, alih-alih berfokus pada politik internal, ia mulai mengarahkan perhatian pada ancaman eksternal yang datang dari kolonial Portugis di Malaka.

Serangan ke Malaka: Ambisi Melawan Portugis

Ratu Kalinyamat tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin perempuan yang dua kali melancarkan ekspedisi militer ke Malaka untuk mengusir Portugis. Serangan pertama terjadi pada tahun 1550, hanya beberapa tahun setelah ia memegang kendali penuh atas Jepara. Ekspedisi ini melibatkan ratusan kapal dan ribuan prajurit, menjadikannya salah satu operasi militer terbesar yang pernah dilakukan oleh kerajaan di Jawa terhadap kekuatan kolonial Eropa.

Sayangnya, serangan pertama ini mengalami kegagalan karena pertahanan Portugis di Malaka sangat kuat. Namun, kegagalan tersebut tidak menyurutkan tekad Ratu Kalinyamat. Dua dekade kemudian, pada tahun 1574, ia kembali mengirim pasukan dalam jumlah lebih besar untuk menantang dominasi Portugis.

Menurut catatan Diego de Couto dalam Da Asia, ekspedisi ini menunjukkan betapa besar kekuatan maritim yang dimiliki Jepara di bawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat. Namun, meskipun serangan kedua ini lebih terorganisasi, pasukan Jepara tetap tidak mampu merebut Malaka dari tangan Portugis.

Warisan Sejarah dan Legenda Ratu Kalinyamat

Meskipun ekspedisinya ke Malaka gagal, Ratu Kalinyamat tetap dikenang sebagai pemimpin yang memiliki visi besar. Ia tidak hanya membangun kekuatan maritim Jepara, tetapi juga menjadikannya sebagai pusat perdagangan yang makmur. Perannya dalam menopang kebangkitan Mataram juga tak dapat diabaikan. Dalam Serat Kandha, disebutkan bahwa sebagian besar kekayaan Kalinyamat diberikan untuk pembangunan Mataram, yang kelak menjadi kerajaan besar di Jawa.

Sumber-sumber Jawa menyebut Ratu Kalinyamat sebagai penguasa yang dermawan dan peduli terhadap rakyatnya. Dalam Babad Tanah Jawi, ia digambarkan sebagai sosok yang rela mengorbankan segalanya demi membalaskan dendam suami dan keluarganya.

Di sisi lain, catatan Portugis lebih menyoroti ambisi militernya. Bagi mereka, Ratu Kalinyamat bukan sekadar ratu yang kaya, tetapi juga pemimpin yang agresif dan menjadi ancaman bagi kepentingan Portugis di Asia Tenggara.

Keseimbangan Antara Dendam, Politik, dan Perlawanan

Jejak sejarah Ratu Kalinyamat menunjukkan keseimbangan yang kompleks antara kepentingan politik, ekonomi, dan militer. Ia adalah simbol kekuatan perempuan dalam sejarah Jawa yang mampu memanfaatkan sumber daya dan aliansi politik untuk mencapai tujuannya.

Di satu sisi, ia adalah seorang wanita yang diselimuti dendam pribadi akibat tragedi keluarganya. Namun, di sisi lain, ia juga merupakan pemimpin dengan visi jauh ke depan yang berusaha menyingkirkan pengaruh kolonial dari Nusantara. Kegagalannya dalam merebut Malaka tidak mengurangi peran strategisnya dalam sejarah, karena ia berhasil mempertahankan Jepara sebagai pusat kekuatan maritim dan ekonomi selama bertahun-tahun.

Sejarah Ratu Kalinyamat bukan hanya sekadar kisah seorang ratu yang berjuang melawan musuh-musuhnya, tetapi juga sebuah narasi tentang bagaimana perempuan dapat memainkan peran penting dalam panggung politik dan militer Nusantara. Ia adalah simbol perlawanan, kekuatan, dan kepemimpinan yang hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Indonesia.