Momen Bersejarah 14 Februari: Jejak Heroik Pemberontakan PETA Blitar dan Supriyadi Melawan Penjajahan Jepang
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Dede Nana
14 - Feb - 2025, 11:46
JATIMTIMES- Hari ini, 14 Februari 2025, Indonesia kembali mengenang satu peristiwa bersejarah yang membentuk perjalanan bangsa: pemberontakan PETA di Blitar.
Di kota ini, tanggal tersebut bukanlah hari Valentine, melainkan hari cinta tanah air—momen di mana para pemuda dengan gagah berani mengangkat senjata melawan penjajahan Jepang.
Baca Juga : Hukum Mengucapkan Selamat Hari Valentine dalam Islam
Dini hari, 14 Februari 1945, pasukan Pembela Tanah Air (PETA) yang dipimpin oleh Shodancho Supriyadi mengobarkan pemberontakan. Mereka memberontak bukan sekadar karena kebencian terhadap Jepang, melainkan karena desakan moral yang tak terbendung.
Kekejaman pendudukan Jepang telah memicu amarah yang terpendam, terutama di kalangan prajurit muda yang menyaksikan penderitaan rakyat secara langsung.
Blitar menjadi saksi sebuah perlawanan yang tragis, tetapi monumental. Meski berakhir dengan kegagalan, peristiwa ini menjadi simbol keberanian yang mengilhami perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Lahirnya Tentara PETA dan Pengkhianatan Janji Jepang
PETA dibentuk oleh Jepang dengan dalih melibatkan pemuda pribumi dalam pertahanan Asia Timur Raya. Gagasan ini pertama kali diusulkan oleh Raden Gatot Mangkoepradja dalam suratnya kepada Gunseikan pada 8 September 1943.
Dalam suratnya, Gatot mengungkapkan harapannya agar rakyat Indonesia tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut serta dalam perang melawan Sekutu.
Respon Jepang datang pada 3 Oktober 1943, saat Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jenderal Kumakichi Harada, mengumumkan berdirinya PETA melalui Osamu Seirei No. 44. Dengan pusat pelatihan di Bogor, PETA segera menarik ribuan pemuda Indonesia yang ingin menunjukkan loyalitas—baik kepada Jepang maupun kepada cita-cita kemerdekaan yang diam-diam mereka simpan dalam hati.
Namun, kenyataan berbicara lain. Jepang memperlakukan rakyat Indonesia sebagai alat perang belaka. Romusha, sistem kerja paksa yang mereka terapkan, menjadi gambaran nyata penderitaan rakyat. Prajurit PETA yang ditugaskan mengawasi romusha di wilayah Blitar melihat sendiri bagaimana saudara-saudara mereka dipaksa bekerja dari pagi hingga malam tanpa makanan dan upah yang layak.
Di sisi lain, pasukan Jepang semakin arogan. Mereka bukan hanya merampas hasil pertanian, tetapi juga memperlakukan perempuan Indonesia secara tidak manusiawi.
Para prajurit PETA yang awalnya dilatih sebagai sekutu Jepang mulai memahami bahwa mereka hanya boneka dalam strategi perang Asia Timur Raya.
Bara Perlawanan dan Rencana Pemberontakan
Menjelang akhir tahun 1944, suasana di Blitar semakin bergejolak. Kekalahan Jepang di berbagai medan perang membuat para prajurit PETA sadar bahwa penjajahan ini tidak akan berlangsung lama. Kesempatan emas untuk bertindak pun tiba.
Di bawah komando Supriyadi, bersama Shodancho Muradi, Shodancho Sunardi, dan Shodancho Suparjono, para perwira PETA di Blitar mulai merancang pemberontakan. Mereka tahu bahwa risiko yang dihadapi besar, tetapi membiarkan Jepang terus berkuasa bukanlah pilihan.
Pemberontakan direncanakan dengan cermat. Mereka mengumpulkan senjata, memetakan strategi, dan mencari dukungan dari rakyat. Target utama adalah merebut senjata Jepang dan menguasai Blitar sebelum ekspansi ke daerah lain.
Tanggal yang dipilih bukanlah kebetulan. Malam 14 Februari 1945 dipilih karena pada saat itu pasukan Jepang berada dalam kondisi lengah. Serangan dilakukan di berbagai titik, termasuk markas polisi dan gudang senjata.
Namun, harapan mereka tak berjalan sesuai rencana. Jepang lebih siap dari yang mereka duga.
Malam itu, serangan mendadak berhasil mengguncang Blitar. PETA berhasil membunuh beberapa tentara Jepang dan merebut persenjataan. Namun, setelah gelombang pertama serangan, Jepang segera merespons. Pasukan bala bantuan didatangkan dari Malang dan Surabaya.
Dalam hitungan jam, pemberontakan berubah menjadi pengejaran besar-besaran. Jepang dengan kekuatan penuh menggulung pasukan pemberontak yang belum sempat melakukan ekspansi.
Para pemimpin PETA yang bertahan segera ditangkap atau tewas dalam pertempuran. Muradi dan beberapa perwira lainnya ditahan, sementara Supriyadi menghilang tanpa jejak.
Supriyadi: Pahlawan yang Hilang dalam Kabut Sejarah
Pada tanggal 14 Februari 1945, di tengah bayang-bayang pendudukan Jepang, seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Supriyadi memimpin pemberontakan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar, Jawa Timur.
Aksi heroik ini menandai salah satu perlawanan bersenjata terbesar terhadap kekuasaan Jepang di Indonesia. Namun, setelah pemberontakan tersebut, Supriyadi menghilang tanpa jejak, meninggalkan misteri yang hingga kini belum terpecahkan.
Supriyadi lahir pada 13 April 1923 di Trenggalek, Jawa Timur, sebagai anak sulung dari pasangan Raden Darmadi dan Rahayu. Kedua orang tuanya berasal dari kalangan bangsawan Jawa, yang memberikan Supriyadi gelar "Raden"
Baca Juga : Identitas Mayat Pria Termutilasi di Jombang Belum Terungkap, Ini Ciri-cirinya
Ibunya meninggal ketika ia berusia dua tahun, dan ayahnya kemudian menikah lagi dengan Susilih, yang menjadi ibu tiri bagi Supriyadi dan sebelas adik tirinya. Kakeknya dari pihak ibu mengambil peran penting dalam pengasuhannya setelah kematian ibunya.
Supriyadi menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan akhirnya ke Sekolah Menengah Tinggi (AMS). Pendidikan yang ia terima memberikan dasar intelektual yang kuat dan membentuk pandangannya terhadap situasi politik dan sosial pada masa itu.
Pada masa pendudukan Jepang, Supriyadi bergabung dengan PETA, sebuah organisasi militer yang dibentuk oleh Jepang pada tahun 1943 dengan tujuan mempertahankan wilayah Hindia Belanda dari serangan Sekutu. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak anggota PETA yang menyadari penderitaan rakyat akibat eksploitasi dan kekejaman Jepang, termasuk kerja paksa (romusha) yang menyebabkan banyak korban jiwa.
Sebagai komandan peleton (shodancho), Supriyadi ditempatkan di Blitar. Di sana, ia menyaksikan langsung penderitaan rakyat akibat kebijakan Jepang. Pengalaman ini membangkitkan semangat perlawanan dalam dirinya dan mendorongnya untuk merencanakan pemberontakan.
Pemberontakan PETA di Blitar terjadi pada 14 Februari 1945. Supriyadi dan rekan-rekannya menyerang markas Jepang di Blitar dengan tujuan mengakhiri penindasan dan mengusir penjajah dari tanah air.
Meskipun serangan ini menunjukkan keberanian luar biasa, pemberontakan tersebut akhirnya gagal. Sebagian besar pemberontak ditangkap atau dibunuh oleh pasukan Jepang. Namun, Supriyadi berhasil menghilang dan nasibnya setelah itu tetap menjadi misteri.
Setelah pemberontakan Blitar, berbagai spekulasi muncul mengenai nasib Supriyadi. Beberapa sumber menyatakan bahwa ia tewas dalam pertempuran atau dieksekusi oleh Jepang, sementara yang lain percaya bahwa ia berhasil melarikan diri dan hidup dengan identitas baru.
Meskipun keberadaannya setelah pemberontakan tetap tidak diketahui, Supriyadi dikenang sebagai simbol perlawanan dan keberanian melawan penindasan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, sekolah, dan institusi lainnya di berbagai daerah di Indonesia. Kisahnya menginspirasi generasi penerus untuk terus memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan.
Supriyadi adalah contoh nyata dari semangat juang pemuda Indonesia yang berani melawan ketidakadilan. Meskipun hidupnya singkat dan berakhir dengan misteri, pengaruhnya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat disangkal. Ia tetap menjadi simbol heroisme dan pengorbanan dalam sejarah bangsa.
Misteri Hilangnya Supriyadi
Nama Supriyadi menjadi legenda setelah pemberontakan. Ia tidak ditemukan setelah kekalahan PETA, meskipun Jepang memburunya dengan segala cara.
Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno bahkan mengangkat Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat pada 6 Oktober 1945. Namun, Supriyadi tidak pernah muncul untuk menjalankan tugasnya.
Pada 20 Oktober 1945, ia akhirnya digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumo.Selain itu, pada 5 Oktober 1945, Supriyadi juga diangkat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang pertama, tetapi ia tidak pernah muncul untuk mengemban tugas tersebut.
Hilangnya Supriyadi memunculkan berbagai spekulasi. Ada yang mengatakan bahwa ia dibunuh secara diam-diam oleh Jepang. Ada pula teori bahwa ia bersembunyi di daerah pedalaman Jawa atau bahkan menjadi pertapa. Namun, tidak ada bukti konkret yang dapat memastikan nasibnya.
Terlepas dari misterinya, peran Supriyadi dalam pemberontakan PETA tidak dapat disangkal. Ia menjadi simbol perlawanan yang abadi.
Warisan Perjuangan PETA Blitar
Pemberontakan PETA di Blitar memang gagal dalam tujuan militer, tetapi tidak dalam tujuan ideologis. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pemuda Indonesia tidak lagi tunduk kepada Jepang. Lebih dari itu, perlawanan ini menginspirasi gerakan kemerdekaan yang akhirnya memuncak pada 17 Agustus 1945.
Pada 9 Agustus 1975, Supriyadi secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 063/TK/Tahun 1975. Namanya diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan, dari monumen hingga nama jalan di berbagai kota di Indonesia.
Pemberontakan PETA di Blitar bukan sekadar episode heroik dalam sejarah, melainkan sebuah peringatan bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan dengan darah dan pengorbanan. Blitar, dengan segala kisahnya, akan selalu menjadi saksi bisu bagi keberanian generasi muda Indonesia yang menolak tunduk pada penjajahan.
