Apa itu Brain Fog, Kondisi yang Sering Dikaitkan dengan Jam Koma Gen Z
Reporter
Mutmainah J
Editor
A Yahya
04 - Nov - 2024, 09:02
JATIMTIMES - Belakangan ini, istilah 'jam koma' menjadi viral di media sosial, terutama di kalangan generasi Z. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana tubuh merasa sangat lelah akibat penurunan energi yang signifikan, biasanya terjadi pada pagi atau malam hari.
Melansir laman Cleveland Clinic, psikolog klinis Veronica Adesla mengatakan, fenomena seperti ini kerap dikaitkan dengan brain fog yang bikin otak sulit berkonsentrasi hingga kesulitan memproses informasi dengan jelas.
Baca Juga : Taruna Moeda Mesin Pemenangan Millenial dan Gen Z Paslon Erji Menuju 27 November 2024
Kurangnya waktu istirahat, lanjut Veronica, menjadi salah satu penyebabnya. Setiap individu membutuhkan waktu untuk beristirahat agar dapat menjalani aktivitas dengan baik.
Gejala Serangan Brain Fog
Dikutip dari laman Medical News Today, brain fog bukanlah sebuah diagnosis medis, melainkan merupakan gejala yang dapat bervariasi antar individu. Setiap orang mungkin merasakan gejala ini dengan cara yang berbeda dan tidak selalu menggunakan istilah yang sama untuk menggambarkan perasaan mereka. Beberapa gejala yang sering dihubungkan dengan sindrom brain fog antara lain:
• Mudah lupa saat membicarakan suatu hal.
• Tidak dapat berpikir jernih.
• Konsentrasi buruk.
• Sulit untuk memusatkan fokus pada suatu hal.
• Merasa bingung.
• Lelah.
• Mudah teralihkan perhatiannya.
• Mengalami kesulitan mengatur pikiran atau aktivitas.
• Kesulitan menemukan kata yang tepat.
• Timbul rasa lesu.
• Sulit untuk mempertahankan rutinitas yang terstruktur.
• Mengalami kondisi kebingungan mental.
• Melupakan tugas dan tanggal penting.
Brain fog dapat memicu siklus yang memperburuk gejala depresi. Ketika mengalami brain fog, Anda mungkin merasa kesulitan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari, memenuhi ekspektasi di tempat kerja, atau bahkan berpartisipasi dalam percakapan santai.
Faktor Pemicu Brain Fog
Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya brain fog, sebuah kondisi yang sering diasosiasikan dengan 'jam koma' yang populer di kalangan Gen Z. Salah satu faktor tersebut adalah efek samping dari penggunaan obat-obatan tertentu.
1. Efek Samping Penggunaan Obat-Obatan
Berbagai jenis obat, seperti antidepresan, obat antikolinergik, dan obat penenang, diketahui dapat memengaruhi kinerja saraf serta zat kimia di otak. Gejala yang muncul akibat efek ini meliputi rasa kantuk yang berlebihan, perubahan suasana hati, hingga kondisi yang dikenal sebagai brain fog.
Selain itu, perawatan kemoterapi yang dijalani oleh pasien kanker juga dapat menimbulkan efek samping berupa brain fog, yang sering disebut sebagai "chemo brain". Umumnya, kondisi ini akan membaik dalam waktu 9-12 bulan setelah pasien menyelesaikan rangkaian perawatan kemoterapi.
2. Kekurangan Asupan Nutrisi
Baca Juga : Heboh Fenomena Likuifaksi di Kabupaten Mamuju, Apa Itu?
Individu yang tidak mendapatkan cukup nutrisi penting seperti protein, zat besi, vitamin B kompleks, vitamin E, dan asam lemak omega-3 berisiko mengalami brain fog serta gangguan fungsi kognitif. Selain itu, mereka yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu juga dapat mengalami brain fog setelah mengonsumsi makanan yang memicu alergi, seperti kacang-kacangan dan produk olahan susu.
3. Stres
Stres yang berkepanjangan dapat memicu kelelahan mental dan mengganggu fungsi kognitif seseorang. Akibatnya, individu yang mengalami stres kronis sering kesulitan dalam memusatkan perhatian dan berkonsentrasi, yang merupakan gejala khas dari brain fog.
4. Kurang Tidur
Tidur yang tidak cukup dapat mengganggu fungsi sel-sel otak dalam mengoptimalkan ingatan jangka pendek. Selain itu, kurang tidur juga dapat memicu stres, yang akhirnya membuat tubuh merasa lelah dan sulit untuk berkonsentrasi.
5. Perubahan Hormon
Fluktuasi kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh sering kali menjadi penyebab brain fog yang umum terjadi pada wanita, terutama selama masa kehamilan atau menopause. Ketidakstabilan hormonal ini dapat memengaruhi fungsi kognitif dan memicu gejala-gejala brain fog.
Cara Mengatasi Brain Fog
1. Berjalan Kaki Secara Teratur
Berjalan kaki secara teratur memilliki banyak manfaat bagi kesehatan. Selain itu, berjalan kaki telah terbukti memiliki berbagai efek positif pada kesehatan mental, termasuk menghilangkan stres, menghilangkan kabut otak, dan meningkatkan kecepatan pemecahan masalah.
2. Ubah Pola Makan
Salah satu penyebab utama kabut otak atau brain fog adalah kesehatan usus yang buruk. Pola makan Anda berdampak pada seberapa baik fungsi otak Anda dan dapat meningkatkan beberapa kemampuan mental seperti daya ingat dan konsentrasi. Beberapa bahan makanan, termasuk ikan berlemak, blueberry, kopi, dan kunyit, dianggap dapat meningkatkan daya ingat dan mendukung fungsi otak yang sehat.
3. Berlatih Mindfulness
Anda juga dapat melakukan aktivitas manajemen stres seperti kesadaran untuk meningkatkan fokus, mengurangi stres yang memicu depresi, dan mengurangi kelelahan mental. Anda dapat memulai dengan beristirahat untuk melakukan latihan relaksasi.
4. Tidur yang Cukup
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, salah satu penyebab terjadinya brain fog adalah kurang tidur. Maka dari itu, penting bagi setiap individu untuk mencukupi waktu tidurnya, yaitu 7–9 jam setiap malam, agar terhindar dari sindrom brain fog. Bila perlu, Anda juga dapat mengoptimalkan daya ingat dengan tidur siang selama 30 menit.
5. Konsultasi ke Psikolog
Jika gejala brain fog terkait depresi memengaruhi kehidupan sehari-hari dan cara Anda beraktivitas, jangan ragu untuk mencari bantuan dan dukungan dari seorang profesional yakni psikolog. Seorang terapis profesional dapat membantu Anda mengidentifikasi penyebab brain fog dan mengatasi gejalanya.
