Asal muasal terumbu karang Bisa Mengalami Pemutihan hingga Mati
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
27 - Oct - 2024, 04:59
JATIMTIMES - Terumbu karang adalah ekosistem bawah laut yang menakjubkan dan penuh warna. Namun, ada fenomena menyedihkan yang mulai sering terjadi—pemutihan terumbu karang. Di mana terumbu karang yang sehat akan berwarna-warni, sementara sesaat sebelum mati, terumbu karang akan berwarna putih pucat.
Namun, tahukah kamu bahwa salah satu penyebabnya ternyata adalah polusi udara? Menurut akun X Asta Ebrahim (@jellypastaa), mungkin terdengar aneh, mengingat terumbu karang berada di dalam laut. Tapi faktanya, ada banyak faktor yang membuat polusi udara ikut memengaruhi kesehatan terumbu karang.
Dikutip dari laman National Ocean Service, untuk memahami proses ini, pertama perlu diketahui bahwa pemutihan terjadi karena terumbu karang kehilangan alga yang disebut zooxanthellae. Alga inilah yang memberi warna cerah pada karang serta menyediakan energi bagi mereka.
Saat kondisi perairan berubah, misalnya karena suhu laut meningkat, terumbu karang menjadi stres dan mengeluarkan alga ini. Proses inilah yang menyebabkan karang memutih dan tanpa sumber energi dari alga, mereka pun berisiko mati.
Mengutip laman World Wildlife, salah satu pemicu utama pemutihan karang adalah kenaikan suhu laut akibat perubahan iklim. Gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana, menyebabkan pemanasan global yang tidak hanya berdampak pada atmosfer tetapi juga lautan. Ketika suhu air laut meningkat, karang lebih rentan mengalami stres dan mengeluarkan alga zooxanthellae, yang memicu pemutihan.
Selain itu, pembakaran bahan bakar fosil dari kendaraan, pabrik, dan sumber lain juga menyumbang banyak polutan, seperti karbon dioksida dan sulfur dioksida. Partikel-partikel ini dapat terakumulasi di atmosfer dan jatuh ke laut bersama hujan, yang bisa menjadi hujan asam.
Hal ini bisa meningkatkan keasaman air laut, yang memengaruhi kemampuan terumbu karang untuk mempertahankan struktur kerangkanya yang terbuat dari kalsium karbonat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut memperparah pemutihan dan meningkatkan risiko kematian karang.
Saat terumbu karang mati, dampaknya tidak hanya berhenti di situ. Ekosistem laut yang bergantung pada terumbu karang, seperti ikan, moluska, dan organisme kecil lainnya, akan kehilangan habitat serta sumber makanan. Seperti efek domino, hilangnya terumbu karang mengancam banyak spesies dan pada akhirnya memengaruhi manusia juga, terutama komunitas pesisir yang bergantung pada laut untuk mata pencaharian mereka.
Pemulihan kondisi terumbu karang memang tidak instan, tetapi kita bisa melakukan langkah-langkah untuk mengurangi dampak kerusakan yang terus terjadi, sebagaimana dikutip laman whoi.edu:
1. Penggunaan Energi Terbarukan - Beralih ke energi seperti tenaga surya dan angin dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.
2. Efisiensi Energi - Menggunakan energi dengan bijak dapat membantu mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.
3. Reboisasi dan Perlindungan Hutan - Hutan membantu menyerap karbon dioksida dan menjaga keseimbangan iklim.
4. Pengurangan Emisi Transportasi - Dengan beralih ke kendaraan listrik atau berbagi kendaraan, kita bisa mengurangi polusi udara.
5. Restorasi Terumbu Karang - Berbagai upaya konservasi seperti adopsi karang bayi untuk memulihkan ekosistem terumbu karang.
6. Perlindungan Pantai dari Erosi - Menjaga garis pantai bisa membantu mengurangi kerusakan terumbu karang akibat sedimentasi.
7. Pengurangan Pengasaman Laut - Usaha untuk menurunkan tingkat emisi polutan yang berkontribusi pada pengasaman laut.
Untuk turut berkontribusi, ada juga berbagai kegiatan yang bisa diikuti, seperti program tahunan restorasi karang dan konservasi laut. Misalnya, dengan adopsi bayi karang, konservasi ikan hias endemik, atau edukasi bagi masyarakat pesisir mengenai pentingnya menjaga kesehatan laut.
Kita semua punya peran untuk melindungi terumbu karang dan menjaga ekosistem laut tetap sehat bagi generasi mendatang. Semoga informasi ini bermanfaat!
