56 Warga Sipil Tewas Akibat Perang Saudara di Sudan

16 - Apr - 2023, 11:38

Ilustrasi perang di Sudan. (Foto dari internet)

JATIMTIMES - Pertempuran antara pasukan paramiliter dan pasukan keamanan Sudan, Sabtu (15/4) memakan korban setidaknya 56 orang. Puluhan korban tewas itu seluruhnya merupakan warga sipil.

Dikutip dari Reuters, berdasarkan data Perserikatan Dokter Sudan mengungkapkan, 56 warga sipil tewas, dan 595 orang termasuk anggota paramiliter dan pasukan pengamanan Sudan terluka sejak pertempuran meletus Sabtu.

Baca Juga : 5 Rekomendasi Outfit Lebaran untuk Remaja Berhijab Biar Anggun No Effort

Tak hanya itu saja, puluhan personel militer juga tewas, tapi belum diketahui pasti berapa jumlahnya. Hal ini karena kurangnya informasi dari banyak rumah sakit tempat para korban itu dirawat.

Berdasarkan pendapat kelompok tersebut, kematian tercatat terjadi di bandara ibu kota Khartoum dan kota di dekatnya Omdurman, Nyala El Obeid, dan El Fasher.

Diketahui, Militer Sudan sendiri telah melancarkan serangan udara di pangkalan pasukan paramiliter di Khartoum pada Minggu (16/4).

Dalam peristiwa peperangan ini, militer dan Rapid Support Forces (RSF) yang menurut para analis berkekuatan 100 ribu orang, telah bersaing memperebutkan kekuasaan ketika faksi-faksi politik bernegosiasi untuk membentuk pemerintahan transisi setelah kudeta militer tahun 2021.

Lalu, pada Minggu dini hari waktu setempat, saksi mata mendengar suara tembakan artileri berat melintasi Khartoun, Omdurman, dan Bahri. Suara tembakan juga terdengar di Kota Laut Merah Port Sudan.

RSF mengklaim sudah menduduki Istana Kepresidenan Sudan, pemukiman tentara, stasiun televisi lokal dan bandara di Khartoum serta kota Merowe, El Fasher dan West Dafur. Namun, Militer Sudan menyangkal klaim ini.

Baca Juga : 6 Ide Hampers Lebaran Cocok Dibagikan Sahabat, Kolega hingga Keluarga

Sementara, angkatan udara Sudan meminta warga tetap berada di dalam rumah sementara mereka meluncurkan aktivitas yang mereka bilang survei udara mengawasi RSF.

Lalu, Kepala Angkatan Darat Jenderal Abdel Fattah Al-Burhan, mengatakan kepada Al Jazeera TV bahwa RSF harus mundur. Pihaknya tak akan bernegosiasi dengan RSF kecuali pasukannya mundur.

Dilanjut, Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Dagalo alais Hemedti mengatakan Burhan adalah seorang 'kriminal' dan 'pembohong'.

"Kami tahu kamu di mana bersembunyi dan akan mendapatkanmu dan menyerahkan kepadamu keadilan, atau Anda mati seperti anjing lainnya," kata Hemedti.