Setelah Sembahyang Melasti, Umat Hindu di Tulungagung Jalani Catur Brata di Hari Raya Nyepi
Reporter
Anang Basso
Editor
Dede Nana
04 - Mar - 2022, 02:57
JATIMTIMES - Sehari sebelum Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Tulungagung menjalankan Sembahyang Melasti. Melasti ini dipusatkan di Pura Giri Amarta, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Rabu (2/3/2022) kemarin. Meski dibatasi jumlahnya karena pandemi masih terjadi, Melasti yang dilaksanakan berjalan khidmat dan khusyuk.
Tokoh Hindu Tulungagung I Nengah Suteja mengatakan, untuk kegiatan hari raya Nyepi saat ini umat Hindu menjalankan ibadah di rumah masing-masing. "Catur Brata di rumah masing-masing untuk ibadah," kata Suteja, Kamis (3/3/2022).
Baca Juga : 1 Narapidana di Lapas Lowokwaru Malang Dapat Remisi Nyepi
Catur Brata Penyepian adalah sebuah rituan tahunan yang memiliki spirit kultural yang berisi 4 larangan. Ritual ini harus dilakukan tanpa ada bunyi pengeras suara dan tidak menyalakan lampu pada waktu malam hari. Namun ritual ini dikecualikan bagi yang sakit atau membutuhkan layanan untuk keselamatan dan hal-hal lain dengan alasan kemanusiaan.
Aturan dalam Catur Brata Penyepian di Bali misalnya harus memenuhi empat hal, diantara Amati Geni, dilarang menyalakan api atau lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka. Kedua, Amati Karya yaitu dilarang melakukan kegiatan fisik/kerja dan yang terpenting adalah melakukan aktivitas rohani untuk penyucian diri. Ketiga, Amati Lelungan, dilarang berpergian ke luar rumah, akan tetapi senantiasa introspeksi diri dengan memusatkan pikiran astiti bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi /Ista Dewata.
Terakhir Amati Lelanguan yaitu dilarang mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang, melainkan tekun melatih batin untuk mencapai produktivitas rohani yang tinggi. Adapun Melasti atau upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat Hindu agar selalu ditunjukkan ke jalan Dharma Kebenaran.
Baca Juga : Pengedar Pil Koplo Asal Ngunut Ditangkap di Warkop
Suteja dalam kegiatan Sembahyang Melasti menerangkan rangkaiannya yang diawali upacara Tawur Agung atau mengitari Pura sebanyak 3 kali dengan memukul kentongan dan alat lainnya. Tujuannya, untuk mengembalikan hal negatif atau Butakala ke tempatnya agar tidak mengganggu saat melakukan nyepi.
