Tradisi Resik Kagungan, Ritual Memohon Keselamatan Masyarakat Banyuwangi
Reporter
Nurhadi Joyo
Editor
Pipit Anggraeni
18 - Feb - 2022, 03:19
JATIMTIMES - Masyarakat Banyuwangi dikenal memiliki beragam adat budaya yang sangat kental. Berbagai tradisi, ritual, upacara adat serta nilai-nilai budaya tinggalan para leluhur tetap terpelihara terjaga dan lestari hingga saat ini. Salah satunya ialah tradisi ‘Resik Kagungan’ yang digelar oleh masyarakat Osing Cungking tiap tahun pada Bulan Rajab penanggalan Jawa.
Seperti yang dilaksanakan Warga adat Dusun Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) yang menggelar Ritual Adat Tradisi Resik Kagungan (Ngumbah Kelambu Kandapan/Situs Ki Wongso Karyo) pukul 08.30 pagi WIB sampai dengan selesai pada Kamis (17/02/2022).
Baca Juga : Jadwal MotoGP Mandalika Dipastikan Tidak Berubah
Ritual Resik Kagungan dipercaya oleh masyarakat Cungking maupun para pengikut yang lain sebagai sarana memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi seluruh masyarakat. Dalam ritual tersebut, warga membersihkan pusaka peninggalan Buyut Cungking yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat setempat.
Resik Kagungan diawali dengan acara ‘melekan’ (begadang) pada malam sebelumnya. Melekan dilakukan masyarakat untuk menyiapkan konsumsi di Resik Kagungan serta menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk ritual.
Acara ritual dimulai dengan memakan jenang wonopuro. Jenang wonopuro melambangkan permohonan maaf dari masyarakat Cungking untuk para leluhur apabila dalam pelaksanaan Resik Kagungan ada salah dan kurang. Seluruh orang yang hadir diwajibkan untuk memakan atau mencicipi makanan tersebut.
Kemudian, ritual dilanjutkan dengan pengambilan pusaka yang disimpan di Balai Tajug. Pusaka tersebut ada beberapa macam, dan disimpan di kain putih. Pusaka yang dibersihkan untuk Resik Kagungan, antara lain Keris Kagungan, sangku, layang, sirip ikan agung, endog kebo, Krikil Suwargo, Krikil Madinah, tepung gelang, dan greto.
Keris Kagungan dibersihkan dengan memakai jeruk nipis, bubuk katul dan serutan bambu dan dilakukan dalam tiga kali putaran. Saat membersihkan Keris Kagungan, sang juru kunci akan menjelaskan tanda yang terdapat pada keris kagungan tersebut. Konon, jika keris tersebut dibuka dari pembungkusnya dan didapati karat di bagian tertentu, maka menurut juru kunci akan terjadi hal besar.
Apabila noda karat pada tahun lalu terletak pada keris bagian atas, menandakan bahwa tahun ini akan terjadi hal buruk di pemerintahan. Sedangkan jika karatnya berada di pangkal keris dan nodanya tidak sebanyak tahun lalu, menandakan bahwa tahun ini lebih cerah atau lebih baik daripada tahun lalu.
Baca Juga : Suguhkan Pengobatan Alternatif, Mbah Gimbal Sambangi Malang
Acara dilanjutkan dengan membersihkan pusaka lainnya menggunakan air. Masing-masing pusaka, yaitu sangku, layang, sirip ikan agung, endog kebo, Krikil Suwargo, Krikil Madinah, dan tepung gelang dimasukkan ke dalam dua baskom yang berisi air. Seseorang ditugasi untuk mencatat berapa banyak gelembung yang keluar ketika pusaka-pusaka tersebut dimasukkan ke dalam baskom.
Setelah seluruh pusaka dibersihkan, seorang dalang menyampaikan kesimpulan dan petuah bagi masyarakat setelah ritual Resik Kagungan. Petuah yang disampaikan berdasarkan jumlah gelembung yang timbul dan hasil pembacaan filosofi dari layang.
Masyarakat Cungking dan sekitarnya memilki kepercayaan apabila air yang digunakan untuk ritual membersihkan pusaka dapat membuat awet muda, mendatangkan rezeki, dan kesehatan. Masyarakat berbondong-bondong berebut air tersebut dengan membawa botol masing-masing untuk dibawa pulang.
Hadir dalam acara tersebut antara lain Perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Wakil Taman Nasional Alas Purwo, Kecamatan Giri, perwakilan Kelurahan Mojopanggung, Tokoh Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT), masyarakat Cungking, budayawan dan beberapa undangan lain.
