Viral Buaya Dibungkus Kain Kafan di Makassar, Disebut Sebagai Kembaran Manusia
Reporter
Desi Kris
Editor
Nurlayla Ratri
13 - Nov - 2020, 05:21
Peristiwa mengejutkan datang dari masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) khususnya suku Bugis-Makassar. Pada masa lampau, mereka yakin jika setiap manusia yang lahir memiliki kembaran buaya.
Namun, kepercayaan itu masih saja diyakini oleh beberapa warga di sana meski sudah di era modern ini. Seperti yang terjadi penemuan seekor buaya muara di Sungai Tallo, Makassar pada Rabu (11/11/2020) lalu.
Baca Juga : Pemain Skeatboard di Monumen Gerbong Maut Minta Maaf dan Disanksi Sosial
Buaya itu ditemukan oleh salah satu warga yang bernama Muliadi. Bahkan, Muliadi mengevakuasi buaya tersebut dengan hormat di ruang tamunya layaknya manusia.
Buaya itu diletakkan di atas kain kafan putih dan dibungkus. Ia juga memanggil pemain gendang gandrang Bulo sebagai penyambutan datangnya buaya yang diyakini sebagai kerabat atau keturunan orang tuanya.
"Buaya keturunan itu," katanya.

Mitos tersebut merupakan keyakinan bagi masyarakat Bugis-Makkasar untuk menjaga alam. Hal itu tertuang dalam kitab Bugis kuno Lagaligo yang berisi tentang perlunya menjaga keseimbangan dengan alam, termasuk yang berada di dalam air.
Namun, kepercayaan itu mulai luntur dengan seiring masuknya Islam yang membawa ajaran yang berbeda dari tradisi masyarakat setempat. Salah satunya yakni tradisi sesajen atau persembahan dewa-dewi yang diubah menjadi upacara maulid.
Terkait hal ini, pemiliki Animal Defenders, Doni Herdaru Tona menyarankan agar buaya itu bisa dikembalikan ke habitat aslinya.
"Untuk menghindari adanya insiden di kemudian hari, sebaiknya buaya itu dikembalikan ke habitatnya," kata Doni.
Doni menilai jika bukan sifat alami buaya untuk hidup di tempat yang ramai di tengah-tengah manusia. Ia lantas menyayangkan kepercayaan warga setempat terkait buaya merupakan keturunan atau kembaran manusia.
Lebih lanjut Doni merasa khawatir jika buaya itu dibiarkan di rumah, akan ada insiden yang justru tidak diinginkan. Hal itu bisa menjadikan buaya sebagai sasaran amukan warga.
Baca Juga : Tarik Perhatian Pengguna Jalan, Dua Maskot Prokes Cantik Ikut Bagi Masker di Tulungagung
"Saya yakin 100% bahwa takhayul seperti ini tak perlu dan tak ada gunanya. Jangan nanti ada insiden, yang disalahkan buayanya, dan buayanya nanti dipresekusi," papar Doni.
Ia lantas juga mengatakan jika buaya diperlukan di alam sekitarnya untuk keseimbangan alam, bukan ada di dalam rumah. Doni juga meminta agar warga tidak percaya dengan hal-hal yang di luar nalar dan meminta mereka untuk berpatok pada keilmuwan.
Sebelumnya, diberitakan jika buaya yang diduga "jadi-jadian" itu ditemukan Selasa (10/11/2020) sekitar pukul 22.00 Wita.
Warga pun saling memberikan informasi terkait munculnya buaya itu.

Lantas buaya itu didiamkan di pinggiran sungai dan baru ditemui lagi pada Rabu (11/11/2020).
Hingga akhirnya dibawa ke rumah salah satu warga yang bernama Muliadi untuk dipertemukan dengan orang yang mengaku keluarga dari buaya itu.
