Polisi Kediri Lestarikan Budaya Leluhur dengan Jaranan

31 - Jan - 2019, 08:04

Agus Budiono berada diantara barongan.

Kediri merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak corak kebudayaan, baik upacara adat maupun kesenian. Salah satu kesenian yang kerap menjadi pertunjukan atau tontonan masyarakat, di antaranya adalah seni tari jaranan.

Jaranan merupakan salah satu seni tari lokal yang hidup dan berkembang di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di daerah Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo dan Pacitan misalnya, kesenian ini konon lahir atau diolah oleh masyarakat karena terpengaruh oleh kisah-kisah yang berlatar kerajaan masa lampau.

Di Kediri ada salah satu anggota polisi yang sangat getol melestarikan kesenian jaranan. Ia adalah Bripka Agus Budiono yang sangat bangga menjadi seorang seniman jaranan.

Agus Budiono adalah anggota Polres Kediri Kota yang bertugas di Polsek Mojo sebagai Bhabinkamtibmas. Dilahirkan di Desa Ringinsari Kecamatan Kandat Kabupaten Kediri 24 September 1985 silam.

Nama Bripka Agus Budiono di kalangan wilayah hukum Polres Kediri Kota mungkin sedikit yang mengetahui. Namun ketika ditanya mengenai Kang Dalang semua orang pasti mengenalnya. Bripka Agus Budiono memang lebih dikenal sebagai Kang Dalang.

Sebutan tersebut diberikan karena hobi Bripka Agus yang berbeda dengan anggota polisi lainnya. Bripka Agus memilih kesenian jaranan sebagai hobi yang digelutinya. Selain itu pria yang bertugas di Bhabinkamtibmas Polsek Mojo ini juga suka dengan kesenian wayang dan keris.

Kang Dalang memang terlahir dari keluarga yang kental akan budaya Jawa. "Bapak saya seorang niaga gamelan, pertama kali dikenalkan seni jaranan oleh adik saya yang juga seorang seniman penabuh kendang Ki Manteb Sudarsono seorang dalang ternama di Jawa Tengah," ungkapnya.

Tak heran kecintaan Agus semakin bertambah terhadap seni jaranan saat ada perlombaan jaranan yang diadakan Kapolresta pada tahun 2005. "Waktu itu ada lomba jaranan antar satuan, dan saya masih di Satreskrim," kenang bapak dua anak ini.

Pria 34 tahun ini ingin mengasah ilmu mengenai kesenian jaranan. Bripka Agus bergabung dengan beberapa paguyuban jarananan, baik di Kota maupun di Kabupaten Kediri.

Berbagai kegiatan yang dilakukan paguyuban diikuti oleh Bripka Agus. Tanpa ada rasa canggung Bripka Agus ikut menunjukkan kemampuannya bermain barongan di depan masyarakat umum.

Berbagai pertunjukan diikuti Bripka Agus bersama anggota paguyuban lainnya. “Saya ingin terus mengasah kemampuan saya. Salah satunya melakukan aktraksi menarik mobil atau memasukkan tangan pada minyak panas,” ungkapnya.

Sebelum menjadi seorang anggota polisi, Agus juga pernah berjualan nasi goreng keliling di daerah Kandat.

Ia bercerita, saat kelas 3 Sekolah Teknik Menengah (STM)  Agus diajak ayahnya berkunjung ke rumah saudara kakeknya di Tulungagung. Saat itu ia disarankan untuk mendaftar menjadi anggota polisi.

Mengikuti saran tersebut, akhirnya Agus mendaftar menjadi polisi. Ternyata benar, setelah mendaftar ia lolos seleksi menjadi polisi. Lulus 2003 kemudian ia mengikuti pendidikan pembentukan bintara Polri (Diktuba) selama 11 bulan. Pada 2004 Agus ditugaskan di Mapolresta Kediri.

Meski sudah menjadi anggota polisi, kecintaanya terhadap seni jaranan kian kuat. Tak hanya menjadi barongan, Agus kerap diundang sebagai pemateri atau juri dalam perhelatan lomba jaranan. Ia pernah tampil di beberapa daerah seluruh Indonesia. Diantaranya, Bali, Jakarta, Surabaya dan Kalimantan.

Keinginannya melestarikan budaya Jawa juga dituangkannya dalam membentuk grup - grup tari jaranan.

“Meski pekerjaan saya saat ini polisi, namun harapan ke depan saya, juga akan lebih memfokuskan pada seni jaranan. Agar generasi muda akan lebih cinta pada seni budaya Indonesia yang adiluhung. “Tidak ketinggalan pesan kamtibmas selalu saya sampaikan kepada para generasi muda," tandasnya.

Sudah seharusnya kita sebagai generasi daerah merawat kebudayaan sebagai upaya menjadi masyarakat yang sadar akan sejarah dan menghormati kebudayaan tradisional. Sebab, kesenian daerah adalah warisan leluhur yang menandakan sejarah-sosial masyarakat setempat dari sejak masa lampau.