Wow.. Pendekar Tiban Di Tulungagung Unjuk Kesaktian Di Bantengan, Bikin Takjub
Reporter
Anang Basso
Editor
Heryanto
16 - Jul - 2018, 04:39
Salah satu peserta yang naik dalam gelandang, sebut saja Imam Basori (45) tampak mengelus lengan kirinya yang terluka memanjang.
Bukan kesakitan, justru dengan bangga Imam memamerkan luka itu sembari nyengir.
“Hanya ini satu-satunya luka yang telak. Yang lain tidak apa-apa,” ucap Basori, sambil juga menunjukkan penggungnya yang memerah
Basori adalah satu dari ratusan warga yang ikut tradisi tiban di Desa Bantengan, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung.
Tiban adalah seni tradisional, yang dulunya adalah ritual untuk memanggil hujan. Ada yang mengartikan tiban sebagai tibo udan (turun hujan).
Dalam tiban siapa saja bisa masuk ke dalam gelanggang. Peserta tidak bisa memilih lawan. Setiap peserta diberi kesempatan mencambuk lawannya tiga kali secara bergantian.
Cambuk yang dipakai adalah pilinan lidi aren yang disebut ujung. Di bagian ujung pilinan disisakan sehelai lidi yang memanjang. Lidi inilah yang bisa merobek kulit jika kelecutkan dengan tepat ke lawan.
“Tadi saya sudah bertanding tiga kali. Sekali lengah langsung terluka parah ini,” ujar warga asal Siyotobagus, Kecamatan Besuki ini
Dalam perkembangannya, unsur ritual dalam tiban memang luntur. Tiban telah menjadi olah raga tradisional yang dilakukan di saat musim kemarau. Banyak desa di Tulungagung yang mempunyai kelompok warga penggemar tiban.
Selain Basori, Anshori (35) mengaku malah sudah menghadapi sembilan lawan dalam arena tiban itu. Meski mempunyai teknik yang bagus, tidak menjamin Anshori luput dari lecutan ujung. Beberapa luka meneteskan darah terlihat di bagin punggungnya.
“Namanya juga senang, meski pun sakit seperti tidak dirasakan. Sembilan kali tanding, mau nambah juga masih berani,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain di Bantengan, Minggu depan di desannya ada pertandingan tiban. Anshori yakin lukanya sudah sembuh dan bisa turun ke arena dalam tempo sepekan. Ia mengungkapkan, bersama warga dirinya berlatih khusus jurus-jurus tiban.
Misalnya cara melecutkan ujung dan cara menangkis serangan lawan. Menurutnya, yang paling penting adalah membaca gerakan lengan lawan. Ke mana lengan lawan mengayun, maka harus diikuti dan diblok atau dihindari agar tidak telak mengenai sasaran yang di inginkan.
“Harus melotot dan tak boleh lengah fokus melihat lengan musuh. Lengah sedikit, atau waktu dipukul menutup mata, pasti habis punggung kita,” katanya.
Panitia tiban, Susilo, mengatakan peserta berasal dari berbagai desa, hingga ke wilayah Kabupaten Trenggalek. Menurutnya, selama ini telah terjalin jalinan silaturahmi sesama penggemar tiban. Jika salah satu desa menggelar tiban, maka setiap desa yang punya komunitas tiban akan hadir.
“Sebenarnya ini upaya komunitas tiban untuk menjaga tradisi. Jangan sampai salah satu budaya Jawa ini punah,” ucapnya
Cukup sulit untuk meregenerasi tiban di kalangan anak muda. Sebab butuh nyali untuk bertarung di tengah arena menggunakan cambuk lidi aren ini. Karena itu di setiap arena tiban, dibuka kesempatan untuk para pemula.
Pagelaran tiban berjalan aman dan tertib saat mulai dibuka hingga paripurna kegiatan tersebut.
